Kamis, 03 Oktober 2019

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI LOMBA KTI TINGKAT SLTA

Berdasarkan hasil seleksi Pansel (Panitia Seleksi) Karya Tulis Ilmiah Tingkat SLTA dari Forkom Bhattara Saptaprabhu dalam Event Kesejarahan Tahun 2019 dengan tema Explore The Cultural Heritage and History of Jember, maka telah dipilih 30 karya.

Kami selaku panitia LKTI Bhattara Saptaprabhu mengucapkan selamat kepada peserta terpilih dan untuk peserta yang belum terpilih untuk tidak berkecil hati.

*Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat

Download pengumuman lengkap disini

Minggu, 22 September 2019

BUKU TERBARU

SALAM LITERASI !!!

Telah terbit buku "Mencari Çūra-bhaya: Telaah Historis Peradaban Surabaya Dari Airlangga hingga Hayam Wuruk."

Untuk kali kedua, Forum Komunitas Bhattara Saptaprabhu melalui penulisnya Yebqi Farhan, S.Pd me-launching buku terbarunya. Namun lain dari buku pertama yang diterbitkan secara Indie, buku kedua ini diterbitkan secara Mayor (penerbit besar).


Surabaya sebagai kota ke- 2 di Indonesia memiliki sejuta keelokan serta keunikan yang membuat setiap orang berdecak kagum. Keunikan itu terpancar dari karakteristik kota Surabaya yang tercermin dalam segala hal khususnya mengenai sejarah Surabaya yang tiada habisnya untuk diperbincangkan.
Surabaya telah dikenal oleh bangsa Indonesia sebagai kota pahlawan karena tanggal 10 Nopember 1945 silam pasukan Inggris mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan “Arek-Arek Suroboyo” meskipun akhirnya Surabaya dapat dikuasai. Tetapi sifat heroik pejuang Surabaya tidak terkalahkan oleh hujan peluru serta bombardir yang dijatuhkan oleh pihak sekutu, mereka tidak menghiraukan apapun yang terjadi. Bagi mereka, mempertahankan kemerdekaan adalah suatu tujuan utama yang selalu terpancar dalam harapan dan berkecamuk dalam ingatan.

Melalui penelitian ini, penulis mengakui kesejarahan Surabaya yang amat panjang dan cukup seksi untuk dikaji. Penulis memiliki fakta yang agak berbeda, bahwa kisah heroik Surabaya telah dimulai sejak masa silam tepatnya ketika feodalisme mengepakkan sayapnya di Nusantara. Ketika masa Majapahit, Surabaya adalah pintu gerbang memasuki kerajaan hingga akhirnya muncullah pengusiran tentara Tartar melalui pelabuhan Hujunggaluh pada tangal 31 Mei 1293 M. Tanggal itulah yang dijadikan dasar Hari Jadi Surabaya hingga sekarang.

Peradaban Surabaya cukup unik untuk diteliti, khususnya ketika pemerintahan Airlangga hingga Hayam Wuruk (1019-1389 M) sebab dalam masa tersebut Surabaya tidak luput dari peristiwa-peristiwa bersejarah seperti dijadikannya Surabaya sebagai 'jayacihna' (lambang kemenangan) dan bandar dagang terbesar Timur Jawa pada masanya. Peran Surabaya sangat vital bagi kerajaan-kerajaan besar yang dimulai sejak perpindahan Mpu Sindok hingga berdirinya kerajaan Majapahit sebagai simbol kerajaan Hindu terbesar di Indonesia dan Surabayalah sebagai penyokong utamanya.
Dari segi keagamaan, sejak masa Airlangga Surabaya telah memiliki bangunan suci semacam kuthi (tempat berkumpulnya para pendeta) sebagai tempat berlangsungnya peribadatan di kota pesisir. Meskipun sekarang tidak terlihat lagi, namun tempat peribadatan ini menjadi suatu tolak ukur religiusitas masyarakat Surabaya di masa lampau. 

Tidak kalah uniknya di bidang politik, Surabaya (Hujungaluh) telah ada sejak masa Mataram. Uraian beberapa prasasti di dalamnya membuktikan bahwa Surabaya diakui secara politis keberadaannya oleh kerajaan-kerajaan besar di Indonesia. Dalam literatur asing dan letaknya yang strategis, Surabaya dijadikan sebagai benteng pertahanan demi menegakkan kedaulatan kerajaan khususnya kerajaan Jayakatwang yang telah menundukkan Singasari pada tahun 1291 M.


Mengenai peninggalan sejarah, Surabaya memang tidak memiliki peninggalan sejarah yang cukup banyak, karena daerah ini baru terbentuk setelah abad XI hingga abad XV. Tetapi penulis yakin jika di bawah permukaan daratan Surabaya tersimpan banyak benda arkeologis yang terpendam. Belakangan ini benda-benda tersebut telah muncul kepermukaan untuk ikut “berbicara” tentang peristiwa sejarah yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Melalui penemuan sumur kuno di Pandean-Peneleh, sejarah Surabaya mulai berbicara bahwa dahulu kota ini memiliki sejarah yang panjang.

Meskipun terdapat kekurangan, buku kecil ini perlu untuk dimiliki oleh publik sebagai konsumsi intelektual tentang sejarah Surabaya. Buku yang mengulas tentang peradaban Surabaya dengan metodologi sejarah dan terdapat pengantar tantang ilmu peradaban ini patut untuk dimiliki sebagai bahan referensi maupun sekedar bacaan semata. 

Untuk pemesanan dapat menghubungi WA 085204224147. Buku ini juga segera tersedia di toko buku terdekat di seluruh Indonesia serta dapat didapatkan melalui online shop.

Klasifikasi Buku

Judul             : Mencari Ҫūra-Bhaya. Telaah Historis Peradaban Surabay Dari Airlangga Hingga                                Hayam Wuruk.
Penulis           : Yebqi Farhan
Penerbit         : Ar-Ruzz Media-Yogyakarta.
ISBN          .  : 978-602-313-420-5
Tahun Terbit  : September 2019
Harga PO      : Rp. 63.000.


Senin, 21 Januari 2019

DEKLARASI DUPLANG


     Sebuah dinamika luar biasa dari para pegiat sejarah se- Tapal Kuda terjadi pada hari Minggu, 5 Pebruari 2017 yang dengan serentak menyikapi kondisi yang dianggap status quo terkait dengan kompleksnya permasalahan 'kesejarahan' di kawasan Tapal Kuda. Gerakan keprihatinan itu pada awalnya berangkat dari suatu forum informal lewat sosial media yaitu WhatsApp (WA) dari para anggota komunitas untuk menyamakan persepsi dalam melihat ketimpangan dan ketidakadilan, serta carut-marut dan anomali terhadap keberadaan akses dan aset sejarah berupa benda cagar budaya di kawasan Tapal Kuda.
Mereka kemudian menyatukan langkah dalam konteks menjaga bersama aset sejarah khususnya benda cagar budaya, wacana penulisan (literasi) sejarah lokal bersama dan perjuangan untuk mem-branding historisitas kawasan Tapal Kuda.

     Sebenarnya cukup sulit untuk menyamakan persepsi dengan adanya ketidaksamaan latar belakang yang menjadi kendala kecil pada wacana awal termasuk masalah administrasi dan keraguan dari beberapa aktivis kepada maksud dan tujuan dari gerakan tersebut. Akan tetapi permasalahan kecil ini dapat dipecahkan dengan arif, demi sebuah tujuan besar bersama ke depannya.
Dalam hal ini selaku tuan rumah komunitas Bhattara Saptaprabhu yang bermitra dengan koordinator BPCB Jember, Drs. Didik Purbandriyo, cs. yang dibantu oleh Y. Setiyo Hadi dari Museum Bhoemi Poeger (TBB Salam), telah sepakat melaksanakan kegiatan di bekas settlement prasejarah Situs Duplang, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. 
Perhelatan sederhana dengan jamuan 10 tumpeng dan polo pendem (umbi-umbian) serta jajan pasar, itu sukses digelar dengan hadirnya para aktivis dan pegiat sejarah di enam kabupaten (Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi). Biaya perhelatan sederhana ini digotong secara sukarela oleh para anggota Bhattara Saptaprabhu, tanpa sepeserpun mengandalkan dana pemerintah.

     Para aktivis dan komunitas yang hadir selain Bhattara Saptaprabhu dan anggotanya, Museum Bhoemi Poeger yang dipandegani oleh Y. Setiyo Hadi, MPPMT (Masyarakat Pecinta Peninggalan Majapahit Timur) Lumajang dengan ketuanya Mansoer Hidayat dan sekjennya Lutfia Amerta beserta tim. Dari kawasan timur hadir datang Irwan Rakhday dan Prayudho B. Jatmiko dari LSM Wirabhumi  dan para aktivis Relawan Budaya Balumbung -Relawan Budaya Patukangan. Dari Bondowoso hadir Masdani RS, cs dan dari Bhumi Blambangan (Banyuwangi) hadir Moenawir dari Banjoewangi Tempo Doeloe (BTD), Mas Aji Wirabhumi dari Blambangan Kingdom Explore, dkk. Selain itu hadir juga para pakar dan akademisi seperti Dr. Retno Winarni, M.Hum, Dr. Sukatman , M.Pd (Universitas Jember), wartawan dari berbagai media dan tidak lupa para pejabat seperti Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jember, Hari Wijayadi, anggota DPRD Jember yang diwakili oleh Isa Mahdi dan Yudi Hartono, serta awak media seperti M. Faizin Adi dari Jawa Pos RJ, dan wartawan elektronik.

     Deklarasi dengan jargon "Bersatu Tekad Melakukan Perjuangan Bersama Untuk Melindungi Aset Sejarah se Wilayah Tapal Kuda" tersebut, dimeriahkan dengan pembacaan puisi "Tawang Alun" oleh Ria Sukariyadi dan deklamasi sajak "Aria Wiraraja" oleh seorang 'pujangga' dari MPPMT Lumajang.
Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi yang dimoderatori oleh Lutfia Amerta Sanjiwani, aktivis sejarah dari Lumajang. Dalam acara diskusi tersebut, beberapa pembicara tampil seperti Dr. Retno Winarni yang mengupas tema diskusi "Timbul Tenggelamnya Hegemoni Tapal Kuda, dan Perannya di Nusantara Abad XIII-XIX. Dr. Retno menjlentrehkan tentang garis besar hegemoni Blambangan di Tapal Kuda, sedangkan paparan sejarah Klasik kawasan Tapal Kuda dipresentasikan oleh Zainollah Ahmad. Selain itu ikut tampil Mansoer Hidayat, Y. Setiyo Hadi, Ria Sukariyadi, Dr. Sukatman dan Mas Aji Wirabhumi serta pembicara lain, yang juga meramaikan narasi sejarah sebagaimana tema di atas. Tentunya para birokrat daerah dan anggota dewan menyampaikan apresiasi kepada para pegiat sejarah yang telah sukses menggelar momen yang langka tersebut, apresiasi khususnya disampaikan kepada panitia dari Bhattara Saptaprabhu.

     Acara yang diisi dengan preambule oleh Drs. Didik Purbandriyo tersebut memiliki gaung yang kemudian bergema ke seantero, sebagai sebuah gagasan cemerlang para aktivis yang peduli terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa. Selaku "pemangku adat" Situs Duplang, Didik Purbandriyo juga memberikan eksplanasi tentang benda-benda cagar budaya yang ada di situs kepada para hadirin khususnya tamu-tamu dari luar Jember.

      Sebelum acara diakhiri dengan diskusi, dikumandangkan ikrar bersama yaitu melalui pembacaan deklarasi yang disebut dengan Deklarasi Duplang (Nawasila Duplang) oleh Ria Sukariyadi dari Bhattara Saptaprabhu, yang isinya antara lain :

1. MELESTARIKAN BENDA BERNILAI CAGAR BUDAYA SERTA TEMPAT YANG           BERPOTENSI MENJADI CAGAR BUDAYA
2.  MENDORONG REALISASI PERDA CAGAR BUDAYA BESERTA ANGGARAN YANG MEMADAI DI SETIAP KABUPATEN DI TAPAL KUDA
3.   MENGGALAKKAN PENULISAN DAN KAJIAN SEJARAH LOKAL KAWASAN TAPAL KUDA
4. MEMPERJUANGKAN SEJARAH LOKAL MENJADI BAGIAN KURIKULUM DI SETIAP SATUAN PENDIDIKAN
5. MEMPERJUANGKAN DITETAPKANNYA PERDA HARI JADI KABUPATEN YANG BERDASARKAN TUJUH KRITERIA 
6. MEMPERJUANGKAN ALOKASI ANGGARAN UNTUK KONSERVASI, EKSPLORASI, REHABILITASI DAN RISET BENDA-BENDA SERTA TEMPAT BERSEJARAH
7. MEMPERJUANGKAN WISATA SEJARAH SEBAGAI TUJUAN WISATA UTAMA DI DAERAH TAPAL KUDA
8. MENDORONG PENEGAKAN HUKUM YANG TEGAS UNTUK UPAYA PERUSAKAN DAN PENELANTARAN BENDA CAGAR BUDAYA
9. MENDORONG MUNCULNYA KOMUNITAS PEGIAT SEJARAH SEBAGAI UNSUR KEKUATAN CIVIL SOCIETY

7 (TUJUH) Kriteria Hari Jadi:
1. Menjadi suatu kebanggaan (pride)
2. Pilihan peristiwa dan tokoh bukan produk kolonial
3. Memiliki karakter dan cita rasa lokalistik
4. Tidak merusak “rumah besar” NKRI
5. Kaya nilai filosofi Pancasila
6. Mengandung nilai-nilai heroisme dan patriotisme
7. Memiliki peristiwa yang lebih awal (tua)


BABAD SUMENEP "REBORN"



Alhamdulillah...telah bertambah lagi buku yang terbit dari komunitas Bhattara Saptaprabhu, berikut telah beredar di toko buku. Sebelumnya buku ini telah melalui proses seleksi dan revieuw di penerbit, termasuk lama penelitian dan kajian pustaka yang memakan waktu lebih dari dua tahun.

Terlepas dari segala kekurangannya, sebenarnya cukup muskil naskah sejarah lokal seperti ini bisa berkompetisi di penerbit besar (mayor) karena terkadang sering dinilai tidak 'marketable'. Lain halnya dengan novel atau roman sejarah yang lebih banyak digandrungi.Terlebih penulis bukanlah dari akademisi yang punya 'branded' Prof. Dr, meskipun metode penulisannya memakai cara dan kaidah yang kurang lebih sama dengan mereka.





Bagi penulis, kepuasan itu bukan hanya karena buku ini lolos di penerbit dan masuk display serta "mejeng" di toko buku. Tetapi terlebih karena bisa mengangkis historiografi Sumenep sebagai kota kecil ke pentas nasional, dimana selama ini literasi sejarah kabupaten itu hanya berkiprah di tingkat lokal saja. Padahal pada tahun 1914 Raden Musaid Werdhisastra, putera Sumenep melalui bukunya Bhabhad Songennep telah membangkitkan patriotisme melawan penjajah. Alhasil, buku ini merupakan  "reborn" dari buku babad tersebut, meskipun isinya 70% tentu tidak sama.

Sebenarnya sudah saatnya literasi sejarah kota budaya tersebut ikut berbicara dan duduk sejajar dengan historiografi Jawa, khususnya sejarah Masa Klasik. Karena Sumenep merupakan fragmentasi dan 'link-up' dari sejarah panjang peradaban Jawa yang adiluhung. Namun selama ini historisitas Sumenep masih berbau 'fairytale' (dongeng) dan terpinggirkan dari para peneliti. Mungkin karena dianggap miskin fakta dan lebih banyak berselimut mitos (folklore, folktale), sehingga kurang menarik.

Bagi yang berminat, buku ini nanti bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dll.nya di kota-kota besar dan bisa juga lewat online (solusibuku.com, bukalapak.com, tokopedia.com,dll). Karena buku ini masuk ditribusi NASIONAL, sebagaimana buku saya sebelumnya.

       


#salamliterasi


BUKAN SEKEDAR MASA LALU


        Kehidupan manusia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah, sebab manusia adalah pelaku sebuah sejarah di muka bumi. Kehidupan manusia dan masyarakat bergerak dan terus berkembang. “Panta Rhei” kata Heraclitus, yang artinya, tidak ada yang tidak berubah, semua mengalir, masyarakat sewaktu-waktu bergerak dan berubah. Selain Heraclitus, Wertheim pernah menuliskan “History is a Continuity and Change” artinya, sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan berubah. Asumsi beberapa pakar di atas memberikan sebuah hipotesa kuat bahwa sejarah merupakan ilmu yang dinamis (berkembang). 


Sehubungan dengan perkembangan Ilmu Sejarah, sejak berakhirnya Perang Dunia II dalam bidang keilmuan, menuntut adanya revolusi yang pada saat itu didominasi oleh aliran Annales di Perancis sejak tahun 1920-an. Fernand Braudel (1995) mengungkapkan dalam bukunya The Mediterannean and the Mediterannean World in the Age of Philip II yang diterbitkan di London memberikan sumbangsih pemikiran bahwa perubahan dari sejarah strukturalisme itu beracuan pada unsur geografis. Berdasarkan pendekatan geografis tersebut melahirkan ide-ide tentang penulisan sejarah lokal

Pengamat pendidikan, Indonesia, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro menyampaikan, penulisan sejarah masih terpusat pada peristiwa besar dan orang-orang terpandang, seperti kerajaan dan orang besar bahkan menurut hemat penulis pada awalnya yang tertuang dalam Sejarah Nasional Indonesia adalah sejarah bangsa asing yang berkuasa di Nusantara yang kelak menjadi Indonesia. Alur penulisannya cenderung menempatkan bangsa pribumi sebagai orang kedua dan tidak sebagai pelaku utama.




Munculnya pendekatan post-kolonial sejak tahun 1950-an berbagai tipe sejarah lokal mulai berkembang. Sebuah permasalahan bermunculan dalam perjalanan sejarah lokal di Indonesia mulai dari definisi, aspek geografis, teori hingga korelasinya terhadap sejarah nasional. Sejarawan yang mempelopori sejarah lokal di Indonesia Taufik Abdullah mengemukakan bahwa pengertian sejarah lokal tidak selalu bersifat tunggal. Sejarah lokal memiliki pengertian dan dimensi yang beragam (Abdullah,1985:15). Abdullah menambahkan yang dimaksud sejarah lokal adalah ”sejarah dari suatu ”tempat”, suatu ”locality”, yang batasannya ditentukan oleh ”perjanjian” yang diajukan penulis sejarah”. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Carol Kammens (2003:ix) yang menyatakan bahwa ”local history is the study of the past events, or people or groups, in a given geographic area. The focus of the local history can be the place itself, the people who lived there or events that took place in a particular location". Artinya sejarah lokal adalah studi tentang peristiwa masa lalu, atau orang atau kelompok, dalam wilayah geografis tertentu. Fokus sejarah lokal dapat menjadi tempat itu sendiri, orang-orang yang tinggal di sana atau peristiwa yang terjadi di lokasi tertentu.

Di samping itu, sejarah lokal yang sering diwarnai oleh mitos (clouded in myth) sering mendorong sejarawan larut dalam anggapan. Maksudnya, peneliti larut dengan anggapan masyarakat lokal dimana peristiwa tersebut dipersepsikan selama ini. Nilai dan praanggapan kultural masyarakat setempat lebih dijadikan referensi dibanding referensi teoretis dan metodologis yang tersedia. Untuk itu pemahaman tentang metodologi dan teori yang relevan dengan topik yang diteliti menjadi sangat diperlukan dalam penelitian sejarah lokal (Abdullah, 1987:3).

Dalam menulis sejarah lokal kita harus menyelami ruh dari sejarah lokal itu sendiri, sebab sejarah lokal bukanlah sejarah kawasan (regional) maupun sejarah sosial melainkan sebuah kajian yang di dalamnya memiliki dua unsur utama yaitu lokalitas dan komunitas yang menghuninya. Jika lokalitas bisa didefinisikan dalam batas geografis, maka komunitas lebih menunjukkan definisi yang lebih beragam seperti keluarga, etnis atau lingkungan yang memiliki interaksi terbatas. Oleh  karenanya, sejarah lokal lebih menekankan pada lokalitas geografi (Philips,1995:2). Namun penulis menambahkan bahwa selayaknya sejarah lokal sebagai ilmu pembelajaran, seharusnya sejarah lokal tidak merusak  tatanan “rumah kebesaran” sejarah nasional.

Kita harus akui jika sejarah lokal berpotensi menimbulkan pertentangan dengan sejarah nasional, sebab manurut Irsyam setidaknya tiga komponen yang membedakan maupun sebagai identitas sejarah lokal terhadap sejarah nasional. Ketiga komponen tersebut adalah tradisi lokal, identitas lokal dan sumber lokal (Irsyam, 2017:19). Namun semua pertentangan itu tergantung kepada penulis atau sejarawan yang menulis sejarah lokal tersebut. Tentunya sebagai seorang sejarawan ada beban moral yang harus dipikul demi terciptanya sejarah lokal yang berkualitas dan dipercaya.

Berdasarkan paparan di atas, bisa kita pahami betapa pentingnya sejarah lokal. Peristiwa yang selama ini hanya dianggap sebuah masa, sejatinya bukan sekedar masa lalu saja. Karena sejarah lokal akan memberi pemahaman bagi masyarakat mengenai asal usul serta akar sejarah di sebuah lokalitas dan masa tertentu. Sehingga masyarakat lokal dapat lebih memahami sejarah di sekitarnya dan dalam lingkup global dapat memperkaya sejarah nasional.


Keterangan : Peninggalan era Kolonial Belanda dan Prasejarah di Jember yang menjadi aset       sejarah lokal.

                                              
                                                  OlehAprilia Nur Hasanah, S.Pd 

    (Anggota Bhattara Saptaprabhu dan guru Sejarah SMA Al-Hasan, Kemiri Panti - Jember)






Minggu, 02 April 2017

POTRET PERADABAN JEMBER KLASIK

    JEMBER merupakan daerah di Timur Jawa yang menyimpan banyak misteri historisitas (kesejarahan) yang belum terpecahkan. Salah satu dari kesejarahan itu adalah aspek sejarah Klasik yang masih belum terkuak dan terjawab dengan tuntas. Dalam kajian penulis buku, Jember telah 'terpapar' pada  kekuasaan dan peradaban pada era Majapahit pada beberapa ratus tahun yang lalu.
Dengan hadirnya buku Masa Lalu Jember, Studi Historis Peradaban Jember Pada Masa Majapahit, yang di-editori oleh Dr. Adzkiyak ini diharapkan dapat mengetahui jawaban dari teka teki selama ini terutama terkait tentang peradaban Jember pada Masa Majapahit.

       Buku dengan tebal 160 hal, dan dibalut cover yang menarik ini merupakan buku kedua tentang masa Klasik Jember yang ditulis oleh aktivis sejarah dari komunitas Bhattara Saptaprabhu yang mengkaji tentang peninggalan peradaban masa Klasik dengan harapan sejarah Jember mulai terkuak kepermukaan. Buku pertama adalah Topographia Sacra, Menulusuri Jejak Sejak Sejarah Jember Kuno, yang ditulis Zainollah Ahmad, yang juga seniornya di pegiat sejarah komunitas yang sama.
Banyaknya peninggalan-peninggalan arkeologis di Jember, menurut Farhan telah memberikan emosi kritis untuk mengakaji sejarah Jember, terutama tentang pembuatan beberapa candi yang diduga kuat pada masa raja Hayam Wuruk yang salah satunya berada di Gumukmas Jember. Meskipun candi-candi itu semuanya nyaris rata dengan tanah. Selain itu Jember merupakan satu daerah yang dianggap  "zona merah" bagi Majapahit kala itu, sebab tercatat dalam beberapa sumber, bahwa Pasadheng (Perang Sadheng) tahun 1331 M yang dilakukan oleh rakyat dan bangsawan di tlatah Sadheng di Puger.
Lebih dari itu, Hayam Wuruk pernah menginjakkan kakinya di Jember dengan beberapa petinggi kerajaan dan rombongan "karnaval agung"-nya. Beberapa fakta sejarah di atas membuat penulis buku merasa tergugah dan tentu merupakan sebuah kekecewaan jika tidak diabadikan dalam bentuk tulisan sehingga muncullah buku sederhana ini. 
         
    Namun Farhan memberikan hipotesa yang "melampaui" sebuah tesis kajian tentang hasil peradaban di Jember. Misalnya dengan berani ia menyimpulkan bahwa Situs Beteng Semboro dan Kutha Kedawung Paleran sebagai peninggalan Blambangan, tanpa memberikan argumen yang jelas. Padahal berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang didukung oleh cerita tutur, kawasan ini lebih merujuk pada peninggalan peradaban Majapahit. Sehingga diharapkan Farhan bisa memberikan tafsir yang argumentatif atas hasil kajiannya atau me-revisi jika merupakan kesalahan tulis.
Selain itu konten buku yang masih belum terfokus pada tema kajian, yaitu "peradaban era Majapahit" di Jember belum mendapatkan porsi yang pas, dan ditulis implisit, tapi bisa dimaklumi karena terbatasnya sumber referensi tentang Jember. 
Akan tetapi buku sejarah lokal Jember ini patut dibaca, dikaji dan dikritisi dan yang penting dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, sebab berisi uraian-uraian yang direkonstruksi dengan penalaran ilmiah dan kritis.
        
       Penulis muda ini telah terpilih sebagai salah satu peserta terbaik dalam pelatihan literasi sejarah Kemdikbud tahun 2017 dari Forum Komunitas Bhattara Saptaprabhu. Ia mengolah dan meramu karyannya dengan kajian berbagai sumber komprehensif yang digunakan para penulis sejarah lainnya. Karena konsekuensi menjadi penulis dan peneliti sejarah tentu harus berkutat pada banyak referensi dan sumber.
Dengan kehadiran buku ini, Yebqi Farhan telah menjawab secara elegan keragu-raguan atas konstruksi sejarah Jember yang dianggap masih rapuh dan belum layak dalam historiografinya, utamanya terkait langkanya sumber mainstream. Penggunaan sumber mainstream yang merupakan keniscayaan, di mana penulis telah berhasil mengkompilasi dan mengkomparasi sumber tersebut, meski belum lengkap.
Karena selain di atas, dalam historiografi ada metode heuristik dan terbuka pintu interpretasi, jika sumber tersebut dianggap tidak sesuai atau tidak validSebagai penulis, Farhan mampu menyikapi dan memanfaatkan metode tersebut. Meskipun akhirnya bermuara pada 'hitam putih', dan terkadang tidak sesuai dengan 'selera kesejarahan' kita.

     Dengan  begitu penulis berhasil menunjukkan bahwa literasi sejarah itu tidaklah jumud, dan "kaku jeku". Ia telah bersiap dengan karya berikutnya. Semoga bisa menambah literasi komunitas kami, demi rakyat, negara dan bangsa tercinta. Selamat membaca. (Tim Resensi Bhattara Saptaprabhu).