Kode Iklan

Senin, 10 Juni 2013

Lakon Sejarah Hari Jadi JEMBER : Bhattara GUGAT !

     (Keterangan Gambar : Buruh tembakau dalam "Djember Tempo Doeloe")

     Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, sebuah keniscayaan bila sejarah hari jadi Kabupaten Jember di-revisi dan ditinjau ulang kembali. Sejarah hari lahir kota tembakau yang dikeluarkan Gubernur Jenderal De Graeff tersebut, sudah tidak relevan lagi dengan semangat nasionalisme dan patriotisme yang kita gelorakan.
Bagaimana tidak, Jember yang cukup kaya dengan peninggalan cagar budaya mulai dari Tanggul sampai Silo,dengan mudahnya menerima Bestuurshervorming Decentralisastie Regentschappen  Oost Java, warisan kolonial. Sebuah "akte kelahiran" produk penjajah yang digunakan dengan memanipulasi usia kota yang sebenarnya sudah sangat tua.
     Bagi penulis, apa yang dilakukan pemerintah kabupaten dan DPRD kala itu merupakan bentuk pelecehan pada sejarah dengan meng-alienasi dan mengabaikan sumber-sumber historis yang lebih signifikan. Secara sarkastis dapat disebut bahwa penetapan hari lahir Kabupaten Jember adalah tidak sah karena merupakan "anak haram" yang diadopsi dari bangsa asing (Belanda). Sebab bangsa itu selama 350 tahun telah membuat kita miskin, menderita dan terbelakang. Penggunaan Staatblad dengan tidak langsung telah memberikan pengakuan secara de facto dan de jure pada penjajahan Belanda atas wilayah Jember khususnya.
     Jember sebagaimana yang termaktub dalam Staatblad Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928, adalah wilayah hamparan lahan pertanian dan perkebunan yang amat subur. Pada masa Mataram (Susuhunan Pakubuwono IV) termasuk dalam wilayah Java's Oosthoek (Malang, Probolinggo, Lumajang, Besuki (Situbondo-Bondowoso) dan Blambangan). Kabupaten Jember sebelumnya termasuk dalam afdeling Bondowoso (Gewestelijk Besoeki), yang kemudian ditetapkan sebagai wilayah setingkat kabupaten (regentschap).
    Kemajuan perusahaan perkebunan di Jember masa itu  dikelola secara profesional dengan tenaga kerja melimpah dan mudah dieksploitasi serta lahan yang subur membuat Belanda banyak mengeruk keuntungan. Salah seorang pemilik perusahaan perkebunan tempo doeloe yang banyak dikenang dan dikagumi kalangan persil (perkebunan) adalah George Birnie. Birnie adalah keturunan Belanda - Scotlandia dan  big bos perusahaan perkebunan NV. Landbauw Maaschappij Out Djember yang memulai usahanya sekitar tahun 1850 bersama dengan Matthiasen dan Van Gennep. Perkebunan milik Birnie mempunyai buruh sekitar satu juta-an dengan lokasi berada Jember Utara dan lereng Pegunungan Hyang - Argopuro. Birnie disebutkan  menikah dengan wanita lokal suku Madura bernama Djemilah yang kuburannnya terletak di tengah sawah jalan raya Jember - Maesan (Bondowoso).
     Namun kemudian kehebatan serta kebesaran George Birnie merasuk menjadi mainset dan "Birnie memory" pada sebagian masyarakat. Menurut seorang pengamat bola, nama Birnie telah diabadikan sebagai trade mark dan spirit organisasi sepak bola di Jember (PERSID) beserta komunitas supporternya. Istilah Bernie kemudian di-up to date menjadi " Berni ", yang artinya "Jember Berani" dan sekarang begitu akrab serta menyatu dengan insan sepakbola Jember.
     Sehingga tak pelak lagi pengaruh Hindia Belanda dalam perkebunan khususnya tembakau telah melahirkan afdeling class tersendiri dengan tipologi khusus serta menciptakan elan (semangat bergelora/kreativitas) sebagian masyarakat Jember. Sehingga lambang kabupatenpun menggunakan daun tembakau. Di samping itu mentalitas warisan kolonial yang sangat feodal masih tersisa di kalangan tertentu seperti penjuraan (penghormatan berlebihan) antara atasan bawahan dengan model hubungan master-servant. Karakter semacam itu seharusnya sudah harus terkikis habis sekarang.
     Kuatnya pengaruh hegemoni kolonial bukan hanya pada wilayah Jember Utara saja, sebelumnya di  masa Sultan Agung Hanyukrokusumo (1613 - 1645) dan era sesudahnya, perhatian Mataram sangat besar pada wilayah Jember Selatan khususnya Puger. Karena wilayah ini kaya akan hasil laut dan sarang burung. Selain itu Puger dengan Pulau Nusa Barong merupakan daerah yang sangat strategis untuk kepentingan pertahanan (militer).
     Ketika pecah huru-hara Blambangan melawan VOC, hubungan antara Puger dan Blambangan sangat erat dan saling bahu membahu dalam pertempuran. Bangsawan Puger seperti  Raden Mas Puger membantu Blambangan dalam kancah perang besar melawan penjajah. Kemudian dilanjutkan oleh perlawanan Sindhu Bromo di Pulau Nusa Barong yang menjadi pemimpin kaum ekstrimis (versi penjajah) dan para lanun dari Bugis untuk mengganggu kepentingan VOC.
     Sejarah kemudian membuktikan bahwa Belanda yang khawatir akan terjadinya pemberontakan para pejuang Puger, kemudian menguasai dan menjadikannya wilayah pemerintahan (Gewestelijk Poeger) yang meliputi Jember dan Bondowoso sekitar tahun 1792 - 1847 (Leiden : E.J. Brill, 1963). Kesimpulannya kalau dibanding Staatblad, pemerintahan Kabupaten Puger terlebih dahulu ada dibanding Jember.
      Bila demikian halnya telah terjadi kontradiksi dan ambigu dalam penggunaan sumber sejarah antara Kabupaten Jember dan Kecamatan Puger kalau sama-sama berdasarkan pada beleid kolonial. Dengan asumsi itu seharusnya pemerintah mengacu pada sumber literatur kolonial yang terlebih dahulu ada yaitu Kabupaten Puger (Regentschaap Poeger).
Sehingga untuk menghindari tumpang tindih, penggunaan Staatblad Kabupaten Jember seharusnya di-delete  dan diganti dengan "dokumen kolonial " Kabupaten Puger, ansich tidak termasuk Bondowoso.
Tapi seharusnya dua dokumen Belanda tersebut tidak digunakan dan tetap mengacu pada bukti-bukti manuskrip atau inskripsi kuno asli kita misalnya Prasasti Congapan yang ditemukan di Dusun Congapan, Karang Bayat (Sumberbaru) dengan candrasengkala " tlah sanak pangilanku" (1088 Saka) kemudian Prasasti Batu Gong di Dusun Kaliputih Rambipuji  bertuliskan "Parvvateswara" (Dewa Gunung) yang diperkirakan antara tahun 650-732 M, semasa dengan Kerajaan Mataram Kuno di Dieng, Jawa Tengah.
     Prasasti Butak yang bertahun 1294 pada masa pemerintahan Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) bisa dijadikan patokan hari lahirnya Jember. Piagam penghargaan R. Wijaya yang diberikan pada Macan Kuping sebagai Kepala Desa Kudadu atas jasa-jasanya itu secara implisit menyebut wilayah Jember dengan Tigang Juru (Jember, Situbondo-Bondowoso dan Banyuwangi/Blambangan). Sehubungan lokasi Jember lebih dekat dengan Lumajang (Lamajang) sebagaimana dimaksud dalam Piagam Kudadu telah diberikan kepada Aria Wiraraja yaitu meliputi Lamajang Utara, Lamajang Selatan dan Tigang Juru. Maka cukup valid bila Tigang Juru dimulai dari Jember ke timur, sehingga secara otomatis Kabupaten Jember berhak menggunakan ulang tahunnya yang dimulai tahun 1294, bersamaan dengan tahun dikeluarkan prasasti tersebut. Namun tidak diketahui secara pasti tanggal berapa Prasasti Butak ditulis, hal ini bisa disikapi dengan memberi tatenger permulaan tanggal dan bulan yaitu 1 Januari.
     Apa yang disebutkan dalam Kudadu Agreement, yaitu dibagikannya wilayah Tigang Juru kepada Arya Wiraraja (Banyak Wide), semenjak itu tlatah Lamajang dan Tigang Juru secara berkelanjutan diperintah oleh Aria Wiraraja sebagai Adipati (Bupati). Kemudian pada masa Hayam Wuruk daerah Majapahit Timur atau yang dikenal dengan nama Kedhaton Wetan atau Brang Wetanan dikuasai oleh puteranya dari garwo ampil (selir) yaitu Bhre Wirabhumi. Tokoh ini dikenal sebagai figur raja yang digadang-gadang menggantikan Hayam Wuruk, namun tertahan oleh saingannya yaitu Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) yang menyebabkan terjadinya Perang Paregrek.
     Wirabhumi selanjutnya menurunkan raja-raja Blambangan sampai dengan abad ke-17 yang melahirkan peristiwa heroik Puputan Bayu (18 Desember 1771) di bawah pimpinan Mas Rempeg Jagapati, Mas Ayu Wiwit dan Baswi melawan VOC (website : Osingkertajarasa).
      Ketokohan Aria Wiraraja menjadi mascot sejarah dan klaim atas figur sentralnya di wilayah 'Tapal Kuda' yang dulu bernama Tigang Juru dan Sumenep (Madura). Bagaimana tidak, karena di Sumenep Banyak Wide telah menjadi founding father berdirinya kabupaten di ujung timur Madura itu sejak masa Raja Kertanegara (1272 - 1292).
Dalam Prasasti Mula Malurung yang berangka tahun 1255 M, Kertanegara sebagai putera mahkota (Nararya Murdhaja) memerintah di suatu daerah di bawah bimbingan sang ayah, Wisnuwardhana (Marwati Djoened Poesponegoro, 1992 :339).
     Tak pelak, Banyak Wide kemudian "dibuang" ke wilayah ujung timur Madura akibat sikap kritisnya terhadap Raja Singosari tersebut. Sejak itu pula Ia menjadi Adipati Sumenep pertama, dalam Prasasti Mula Malurung, Aria Wiraraja juga disebut sebagai cikal bakal lahirnya Kabupaten Lumajang. Maka tidak heran kemudian terjadi perebutan "hegemoni" ketokohan Aria Wiraraja sebagai orang yang "mbaurekso" antara Lumajang dan Sumenep. Bahkan sejarah kota Banyuwangi (Blambangan), Jember maupun Tigang Juru (daerah Tapal Kuda) tidak bisa dipisahkan dari ketokohan Aria Wiraraja. Karena bagaimanapun klaim sejarah daerah tersebut tetap melandaskan pada sumber-sumber historiografi yang sama.
Sumber-sumber yang digunakan seperti Prasasti Butak, Prasasti Mula Malurung, Pararaton, Negarakretagama dan Kidung Harsya Wijaya adalah bahan rujukan yang sama-sama digunakan oleh  kabupaten yang ada di sekitar tapal kuda.
     Pada galibnya sejarah hari jadi kota-kota kabupaten yang ada di Nusantara khususnya di Jawa meng-akomodir dari sejarah pra maupun masa kolonial. Banyak yang melandaskan pada penemuan prasasti dan inskripsi seperti Lumajang (Prasasti Mula Malurung-1255 M), Nganjuk (Prasasti Anjukladang-937 M), Malang/Malangkuceswara (Prasasti Ukirnegara-1198) dan Sumenep (Kitab Pararaton -1269) dan peristiwa sejarah seperti Banyuwangi (Puputan Bayu, 18 Desember 1771). Hari lahir Kota Banyuwangi yang disatukan dengan Blambangan merujuk pada peristiwa heroik Puputan Bayu di masa VOC (Belanda) yang sangat dramatis dan membawa emosi kita bagai diaduk-aduk sehingga pada akhirnya menumbuhkan jiwa  patriotisme.
      Namun yang menjadi masalah adalah penetapan sejarah hari jadi Kabupaten Jember, karena terjadi  kesulitan untuk menentukan kapan wilayah ini ada dan kapan namanya tercetus. Berdasarkan kajian toponimi, daerah ini tidak pernah secara tegas disebutkan dalam kitab-kitab rontal, keropak, prasasti atau sumber-sumber inskripsi kuno pada era kerajaan Hindu-Budha maupun kerajaan Islam.
Mungkin inilah yang menyebabkan para pengambil keputusan hari lahir Jember merasa absurd dalam mencari akar sejarah Jember, sehingga mencari jalan pintas dan instan dengan berpedoman pada Staatblad warisan kolonial.
     Sehingga pada akhirnya, kita tidak mendapatkan kesan dan kebanggaan apa-apa selain sikap menyayangkan dan skeptis kepada pengambil keputusan yang gegabah dalam menetapkan hari lahir Kabupaten Jember. Sangat disesalkan sekali para akademisi, sejarawan dan budayawan yang punya akses serta peran dalam menetapkan hari jadi tidak mengoptimalkan upaya dan pemikirannya.
      Toponimi Jember masih mengacu pada folklore atau cerita rakyat ataupun folktale (dongeng) yang menimbulkan perdebatan berkepanjangan. Pemunculan istilah jember, jembar maupun jembret sangat kental dengan budaya pendhalungan Jawa-Madura. Masing-masing menginterpretasikan sendiri sesuai kehendak mereka dan akhirnya diterima sebagai nama yang diakui bersama sampai sekarang. Sehingga kemudian nama Jember (Djember) akhirnya disebutkan secara formal dalam administrasi Hindia Belanda pada sekitar abad ke-18 dan otomatis termasuk kabupaten termuda di Pulau Jawa, dibanding kabupaten lain yang rata-rata berusia lama (selain kabupaten hasil pemekaran).
     Menurut penulis, penetapan hari jadi Kabupaten yang tergesa-gesa serta tidak melalui telaah dan penelitian ilmiah secara mendalam, telah menyebabkan pendustaan bahkan  pembohongan sejarah terhadap publik.
Bagi penulis dan teman-teman dari Forum Komunitas Bhattara Saptaprabhu, yang sangat intens dan concern melakukan telaah dan studi kesejarahan meminta agar pemerintah kabupaten meninjau kembali keputusan yang dikeluarkan terkait dengan hari ulang tahun kabupaten tercinta ini.
(Oleh : Zainollah, S.Pd & Tim Bhattara Saptaprabhu)  



(Keterangan Gambar : Masjid lama di pusat kota Jember)




Senin, 27 Mei 2013

CANDI DERES, MONUMEN MAJAPAHIT DI TIGANG JURU YANG TERSISA


    Prasasti Butak atau yang dikenal dengan nama Piagam Kudadu (tanggal 11 September 1294 M) menyebutkan tentang perjalanan Sanggramawijaya (Raden Wijaya) dengan para sahabat yang tergabung dalam sisa pasukan Kerajaan Singhasari saat mengalami pralaya (pemusnahan) mundur dan lari dikejar pasukan Jayakatwang dan  Patih Kebo Mundarang dari Kerajaan Gelang-Gelang (Daha).
    Dalam pelarian itu mereka akhirnya sampai di daerah pedalaman sebuah desa bernama Kudadu atau Pandakan. Oleh kepala Desa Kudadu yang bernama Macan Kuping para ksatria yang terdiri dari Lembu Sora, Ranggalawe, Nambi, Dangdi, Banyak Kapok, Pedang, Mahisa Pawagal, Pamandana, Gajah Pagon, Wirota dan Wirogati diterima dengan senang hati dan disuguhi buah kelapa muda. 
Konon disebutkan bahwa setelah kelapa muda dibelah untuk dimakan, telah menampakkan sebuah "keajaiban" yaitu perlambang akan adanya kemenangan dan kemegahan Raden Wijaya di kemudian  hari.
     Selanjutnya dari Desa Kudadu rombongan meneruskan perjalanan ke Kulawan, Rembang sebelum akhirnya ke Madura yaitu Sumenep (Songeneb) dengan meninggalkan Gajah Pagon yang terluka pahanya akibat hunjaman tombak musuh dan menitipkan pada kepala desa Kudadu tersebut.
Di Sumenep mereka diterima dengan sukacita dan penuh keramahan oleh Banyak Wide atau Arya Wiraraja dan istrinya. Sambutan tuan rumah terhadap tamunya yang datang dari jauh dengan perjamuan serta hidangan makanan dan minuman yang berlebihan. Selain itu banyak nasehat, petuah dan siasat politik yang diajarkan pada Sanggramawijaya guna mengalahkan pasukan Jayakatwang dari Gelang-Gelang termasuk memanfaatkan pasukan Mongol (Tartar).
Perlu diketahui Banyak Wide adalah seorang politisi dan pakar militer yang mumpuni dan menjadi andalan Kertanegara raja Singhasari. Hanya karena hasutan kaki tangan Jayakatwang di dalam istana dia lalu disingkirkan dan dibuang menjadi adipati di Sumenep.
       Sanggramawijaya sangat berterima kasih dan berjanji pada Arya Wiraraja, kelak kalau dia dapat menguasai Pulau Jawa maka wilayah kerajaaannya akan dibagi 2 yaitu wilayah barat menjadi bagiannya, dan wilayah timur yang meliputi Lamajang (Lumajang) Utara, Lamajang  Selatan dan Tigang Juru menjadi hak Arya Wiraraja. Menurut beberapa pendapat istilah Tigang Juru menyebutkan dengan juru atau 'kepala daerah'. Namun ada pendapat sederhana yang dimaksud dengan daerah "Tigang Juru" itu adalah "tiga penjuru" mata angin yaitu Bondowoso dan Situbondo di utara, Jember di selatan dan Blambangan (Banyuwangi) di sebelah timur. Dengan asumsi karena wilayah Lumajang (Lamajang) sudah memiliki nama sendiri, sedangkan penyebutan wilayah yang belum memiliki nama di sekitar Lumajang untuk lebih mudahnya mengacu pada arah mata angin. Wilayah pembagian itu hampir mirip dengan wilayah pasca pemerintahan Raja Airlangga yang dibagi dua yaitu Pangjalu dan Jenggala. Wilayah Pangjalu meliputi sebelah barat Sungai Berantas dan Jenggala di sebelah timur yaitu termasuk Gunung Semeru dan Gunung Brahma (Bromo).
    Ketika cita-cita Sanggramawijaya terwujud dengan lahirnya Kerajaan Wilwatikta (Majapahit), Ia menepati janji dengan memberikan wilayah Lumajang kepada Arya Wiraraja yang diangkat menjadi Raja Muda dengan gelar Rakryan Mantri Makapramuka.
Realisasi janji itu ditagih oleh Arya Wiraraja pasca terjadinya Pemberontakan Ranggalawe Adipati Tuban. Setelah gugurnya Ranggalawe Pararaton menyebutkan bahwa Arya Wiraraja pulang ke Lamajang. Dalam peristiwa ini akhirnya terjadi pemisahan wilayah Majapahit secara de jure. Meskipun secara de facto wilayah Lumajang tetap bertuan pada superioritas Majapahit. Sejak saat itu juga kedudukannya sebagai Adipati di Sumenep telah berakhir.
Selanjutnya pengganti Arya Wiraraja yaitu Pu Nambi tetap menyatakan kesetian dengan menyerahkan pajak in natura pada Majapahit di Antarwulan (Trowulan) sampai akhirnya dia dibantai dengan keluarganya (1316 M) dalam mempertahankan Benteng Pajarakan. Pu Nambi di-pralaya oleh tentara Majapahit akibat dari sebuah skenario besar Mahapati (Dyah Halayudha) tokoh culas dan licik yang menginginkan teman seperjuangan Raden Wijaya semuanya tumpas kelor.
 Ada perkiraan ditemukannya Situs Petukangan di daerah Panarukan memungkinkan peninggalan Majapahit (Lamajang), dengan nihilnya pembuktian keberadaan benteng Pu Nambi di Pajarakan (sekarang di Probolinggo).
Menurut cerita penduduk di Lumajang, pertempuran sengit antara Majapahit dengan Lamajang terjadi di daerah Bondoyudo (sekitar parit raya) dengan menelan korban banyak pada pihak Lamajang, sehingga dikaitkan dengan kemiripan dalam kisah Mahabharata yaitu perang antara Pandawa dan Kurawa dalam Perang Bharatayudha.
  Daerah Lamajang dan Tigang Juru selanjutnya diintegrasikan kembali dengan Majapahit pasca gugurnya Pu Nambi. Untuk seterusnya menjadi daerah yang teramat penting bagi Majapahit karena merupakan dataran yang amat subur dan strategis, hutannya lebat dengan aneka jenis binatang yang langka, daerahnya relatif aman dari amukan letusan gunung dan gempa. Peristiwa letusan Gunung Kampud (Kelud) dan bencana di Pabanyu Pindah di masa lahirnya raja Hayam Wuruk yang memporak-porandakan Majapahit Barat, sehingga ada pemikiran untuk memindahkan pusat kerajaan ke Lamajang atau Tigang Juru. Meski akhirnya rencana itu kandas karena ada pertimbangan historis bahwa daerah Lamajang dan Tigang Juru tetap harus berada pada keturunan Pu Nambi dan Arya Wiraraja guna menghormati dua tokoh tersebut.
    Sebelum terjadinya peristiwa Perang Paregreg  pada tahun 1404-1406 antara Wikramawardhana dari Majapahit Barat dan Bhre Wirabhumi dari Majapahit Timur, wilayah Lamajang dan Tigang Juru menjadi tempat perjalanan muhibah Raja Hayam Wuruk. Bahkan raja dan kaum bangsawan dalam lawatannya  naik kereta lembu dan sering menginap, dengan diiringi pasukan pengawal yang besar dengan kuda-kuda Sumba yang gagah dan kekar. Hal itu dengan bukti didirikannya beberapa candi seperti Candi Jabung di Paiton, Candi Deres di Gumukmas dan kemungkinan bangunan suci di Situs Gondosari di Wuluhan, Situs Kranjingan dan situs-situs lainnya yang belum digali. Perjalanan panjang Prabu Hayam Wuruk dan rombongannya didampingi oleh Mpu Prapanca sebagai bujangga istana. Daerah-daerah yang dikunjungi adalah Kasogatan Bajraka, Sadeng (Puger), Kunir Basini (lembah Sungai Besini Puger), Kutha Bacok (Watu Ulo), Sarampwan, Renes (Wirowongso), Lurah Blater dan Balung. Di Kutha Bacok (Watu Ulo) Sang Prabu sangat terkesan sewaktu menikmati deburan ombak pantai yang berpendar seperti hujan kala menerpa batu karang yang berdiri kokoh.
    Dalam salah satu pupuh Kitab Negarakretagama atau Desawarnana (1365 M) juga dilukiskan dengan panjang dan apik bagaimana serunya perburuan raja dengan para prajurit dan bangsawan di hutan kawasan timur di daerah Palumbon yang kaya dengan aneka jenis binatang. Bahkan Pancaksara (Mpu Prapanca) atau yang dikenal sebagai Dang Acarya Nadendra pengarang kitab, melukiskan juga salah satu kisah perburuan tersebut yang membawa banyak korban di kalangan prajurit akibat diseruduk celeng, ditanduk rusa dan banteng atau dikejar harimau dan binatang buas lain, dalam perburuan di hutan Nandawa
Apa yang ditulis pujangga Mpu Prapanca  sangat relevan dengan keadaan kawasan hutan di wilayah Majapahit bagian timur. Sedangkan beberapa bangunan berupa candi dan petirthaan yang sebagian masih tersisa tersebut terkait dengan perjalanan raja sebagai monumen kebesaran Majapahit untuk dikenang.
     Keberadaan Candi Deres menyisakan sedikit bangunan yang masih tegak dengan reruntuhan batu bata besar khas Majapahit di sekitarnya, membuat penulis dan komunitas Bhattara Saptaprabhu sangat prihatin. Candi yang mungkin sudah runtuh bila tidak ditopang dan dicengkeram oleh pohon kepuh (sterculia foetida) serta ditumbuhi pohon apak panggang (ficus reptan) dan wuni (antidesma bunius) itu masih menampilkan kewibawaannya sebagai sebuah bekas tempat ritual pendharmaan.
Pelataran candi seluas lebih kurang 5000 m2 yang ditemukan sekitar tahun 80-an telah dipenuhi rumput liar dan dijadikan lahan tegalan oleh keluarga juru kunci. Tak jarang kadang beberapa ekor ular berbisa melintas di areal sekitar candi yang berangin sepoi-sepoi dan berhawa sejuk yang membuat kita sangat betah berlama-lama tinggal di sana.
Sungguh suatu bangunan yang luar biasa meski hanya tinggal puing-puing. Kehebatan bangunan berbatu bata merah dengan mutu pembakaran tinggi dan kualitas tanah liat pilihanlah yang membuatnya bertahan hingga lebih dari enam ratus tahun.
     Di daerah Jember dan Lumajang yang masuk wilayah Majapahit timur maupun di Banyuwangi dan sekitarnya, tidak banyak peninggalan Majapahit yang utuh. Semuanya sudah tergerus, terkubur lahan tegalan, pekarangan dan persawahan penduduk dan sangat muskil untuk menggali kembali. Rendahnya kesadaran masyarakat serta ketidaktahuan pada pentingnya cagar budaya yang diatur dalam Undang-Undang Nomer 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang selama ini tidak pernah disosialisasikan. Peninggalan berupa candi dan sejenisnya yang dianggap sebagai sarana memuja dewa, tempat bersemayam mahluk halus, sinkretis, bid'ah dan khurafat, menjadikan bangunan itu sasaran amuk massa khususnya pada tahun 1966 - 1968. Situasi politik saat itu yang rentan terhadap sentimen agama, ras dan golongan akibat peristiwa G 30 S/PKI telah menjadikan kelompok yang tergabung dalam  KAMI/KAPPI melakukan perusakan peninggalan cagar budaya di Jember dan sekitarnya.
Selain itu maraknya pencurian di areal situs yang berburu harta karun, artefak, benda-benda pusaka dan selanjutnya dijual ke kolektor barang antik. Mereka tidak berpikir bagaimana kelak generasi muda yang akan datang mencari bukti kebesaran nenek moyang di masa lalu. Selain manfaat untuk kegiatan para ilmuwan mengadakan riset sejarah, juga sebagai monumen kekayaan bangsa dan penghargaan terhadap karya budaya pendahulu kita. 

(Oleh : Zainollah, S.Pd & BHATTARA SAPTAPRABHU)

Keterangan Foto  : Kaki candi yang masih kokoh meski dililit akar pohon, koordinator Forkom  Bhattara Saptaprabhu dan beberapa anggota lagi bersantai dan berdiskusi di  lokasi Candi Deres.
 
 
         

Kamis, 23 Mei 2013

SITUS BETENG , WARISAN MAJAPAHIT YANG TERGERUS


    Keprihatinan kami sebagai pecinta dan penyelamat cagar budaya khususnya yang ada di Jember makin mendalam tatkala berada di Situs Beteng yang berlokasi di Dusun Beteng Desa Sidomekar Kecamatan Semboro. Apa yang semula tergambar di benak kami tentang keberadaan sebuah benteng utuh yang berdiri kokoh, tidak sesuai harapan. Karena bekas beteng (benteng) yang diperkirakan dibuat pada masa akhir kebesaran Majapahit sekitar tahun 1477 itu kini sudah hampir sirna. Tinggal pondasi batu bata merah besar yang menjadi ciri khas bangunan era Majapahit dan beberapa lagi yang sudah tidak utuh dan masih berserakan di sekitar benteng. Berdasarkan penelitian pada awal ditemukannya bekas bangunan, panjang benteng itu diperkirakan antara 6- 8 kilometer ke arah timur dan selatan. Pada bangunan utama (semacam bangsal atau paseban) ditemukan bekas beberapa ruang  (kamar) dengan ketebalan batu bata besar sekitar 80 centimeter. Semula bangunan itu terhubung sampai ke daerah Kuto Kedawung Desa Paleran Kecamatan Umbulsari. Mengingat banyaknya ditemukan fondasi batu bata yang terpendam serta keberadaan 6 buah sumur kuno yang di sekitar bangunan benteng.
    Di Situs Kuto Kedawung Paleran yang menjadi bagian dari beteng keberadaan bangunan sudah tidak tampak lagi karena tertutup oleh persawahan milik penduduk. Struktur batu bata sudah dirusak oleh tangan-tangan jahil dan secara perlahan mulai raib tidak ketemu rimbanya.
Tidak mustahil bila bekas bangunan itu adalah benteng pertahanan yang melingkari "kota baru" yang dibuat dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh. Ketebalan batu bata serta beberapa artefak yang berhubugan dengan kepentingan militer dan keberadaan beberapa buah sumur sebagai sarana logistik menunjukkan indikasi yang tidak bisa dipungkiri. 
   Pohon beringin besar yang biasanya selalu tumbuh berdampingan dengan bekas bangunan bersejarah, tampak menghiasi pelataran dekat tempat penyadranan (ritual) benteng. Sehingga pohon yang disebut asoka atau bramastana itu sempat membingungkan pengunjung benteng karena mendominasi di lokasi tersebut. Pohon itu bisa-bisa dianggap obyek utama karena tidak tampaknya onggokan bekas bangunan beteng yang sebenarnya. Apa yang kelihatan hanya beberapa tinggalan berupa artefak seperti beberapa alu dan lesung batu yang digunakan untuk meracik obat-obatan untuk prajurit yang terluka dalam pertempuran. Beberapa lumpang, batu pipisan, batu gunjik, kalung manik-manik, pahoman (pedupaan) dan serpihan batu andesit dan terakota. Keberadaan pedang kangkam pamor kencana peninggalaan Prabu Brawijaya V (Bhraa Kertabhumi ?) yang sering diberitakan itu tidak tampak kelihatan.
Konon menurut juru kunci benteng Ngabdul Gani, pedang itu telah moksa (lenyap secara gaib). Pusaka yang ada sekarang hanya berupa keris pusaka Kiai Omyang yang masih dipegang olehnya dan ditunjukkan pada kami. Selain itu peninggalan penting lainnya adalah berupa sumur kuno dengan di-plengseng susunan batu merah era Majapahit meskipun pada bibir sumur di-plester semen untuk menjaga kekuatannya. Berdasarkan buku tamu yang dipegang juru kunci, bekas peninggalan bersejarah itu lebih banyak dimanfaatkan untuk ritual para peziarah yang datang untuk sambung do'a, bernadzar, mengambil air sumur dan daun pohon beringin untuk tujuan ngalap berkah. Hanya beberapa gelintir yang mengadakan sigi untuk penelitian sejarah.
    Kami berdiskusi dengan tim ketika mengamati tempat penyadranan, yaitu seandainya diadakan ekskavasi (penggalian) yang melibatkan arkeolog tidak menutup kemungkinan adanya terowongan dan ruang bawah tanah atau labyrint yang menghubungkan benteng dengan hutan sekitar atau sungai. Lorong tersebut sebagai jalan rahasia untuk menyelamatkan raja dan keluarganya bila terjadi situasi darurat atau bila benteng terkepung dan diduduki musuh. Kemungkinan hal itu ada kemiripan dengan ruang bawah tanah Situs Kedaton dan Sumur Upas yang ada di Trowulan Mojokerto. Dengan asumsi bila benar itu bangunan benteng, tak akan lepas dari keberadaan ruang bawah tanah, terowongan, penjara bawah tanah, gudang senjata dan sebagainya. Bangunan benteng yang dibangun dengan bata merah dan direkatkan dengan cara digosokkan, berhubungan dengan bangunan kuno yang ada di Desa Paleran Umbulsari yang sekarang sudah tidak tampak akibat dijadikan persawahan penduduk.
    Menurut Ngabdul Gani, situs beteng yang ditemukan tahun 1939 dengan ketinggian 2,5 meter itu mengalami pengrusakan parah dan aksi vandalisme tahun 1968 pasca peristiwa Gestapu (G30S/PKI  1965) oleh massa mahasiswa yang mengatasnamakan KAMI/KAPPI. Kalau itu memang benar  mahasiswa yang notabene kaum intelektual, mengapa benda bersejarah yang secara otomatis tempat mereka mengadakan penelitian dirusak ? Atau mengapa masyarakat juga menjadikan benteng yang "melongo" itu menjadi sasaran amuk ?
    Kalau hanya pelampiasan karena marah dan jengkel pada ulah kaum komunis pada saat konflik sektarian, tidaklah pada tempatnya mengganyang bangunan tersebut. Tindakan anarkhis mereka tidak sepatutnya dialamatkan pada bangunan yang didirikan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) saat dikejar-kejar tentara Raden Patah dari Kerajaan Demak itu .
Sebenarnya konflik antara Raden Patah dengan Brawijaya bukan perang agama, tapi terkait dengan suksesi dan hegemoni kekuasaan politik. Sebagaimana telah menjadi semacam kelaziman di tiap kerajaan, intrik politik, perang dan pembunuhan sudah biasa terjadi. Dalam peristiwa ontran-ontran Kerajaan Demak yang Islam melawan Majapahit yang Syiwa-Budha, justru di pihak Majapahit dipimpin beberapa senapati dan panglima perang beragama Islam. Di antaranya adalah Raden Kusen murid dari Raden Rahmat (Sunan Ampeldenta) yang merupakan adik kandung Raden Patah (Panembahan Jimbun - Sultan Demak). Peristiwa tersebut menghadapkan kakak-adik Raden Patah versus Raden Kusen di medan perang. Raden Patah sendiri merupakan keturunan dari Brawijaya V dengan puteri Aria Damar dari Palembang.
     Peristiwa pengrusakan pada Situs Beteng pada tahun 1968 berlanjut hingga sekarang. Meskipun pengrusakan sekarang tidak pada skala masif dan aksi vandalisme, namun bongkahan batu bata kualitas tinggi itu pelan-pelan raib digondol maling, atau dibawa orang untuk berbagai keperluan serta berada di tangan para kolektor.
Sangat disayangkan sekali perhatian Pemkab Jember dalam hal ini Dinas Kebudayan dan Pariwisata atau instansi terkait, karena tidak ada tindakan konkrit dalam menyelamatkan Situs Beteng dan situs-situs lainnya seperti Candi Deres, Situs Kutho Kedawung dan Situs Gondosari. Semuanya adalah situs-situs bernilai penting peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Jember. Hingga kini keberadaan semua situs itu nyaris sirna, tergerus "tangan-tangan jahil" bahkan ada yang sudah terkubur seperti Situs Kutho Kedawung di Paleran dan Situs Gondosari di Tamansari Wuluhan.
      Sebagai komunitas pecinta sejarah, Bhattara Saptaprabhu telah mengadakan bhakti sosial guna menjaga dan menyelamatkan situs kuno yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya tersebut. Di antaranya adalah dengan mengumpulka batu bata yang berserakan dan benda-benda lainnya, serta memasang papan nama (nambor/banner) dan denah bangunan. Karena tanggung jawab pelestarian warisan nenek moyang itu ada pada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
(Oleh : Zainollah, S.Pd dan Tim Bhattara Saptaprabhu)





Selasa, 26 Februari 2013

ASAL USUL NAMA BANDE ALIT (SEBUAH FOKLORE)


            
        Bande Alit yang eksotik merupakan suatu daerah pantai pesisir yang kaya akan keindahan alamnya baik flora maupun faunanya yang terletak di Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Bande Alit banyak menyimpan cerita misteri  yang  belum banyak terungkap mengenai sejarah dan asal usul seperti nama Bande Alit itu sendiri.
Nama Bande Alit berasal dari Bende (gong untuk menabuh gamelan) dan Alit (kecil), yang berarti Bande Alit adalah gong  kecil yang digunakan pada jaman itu untuk memanggil seseorang.
Menurut petugas Taman Nasional Meru Betiri Wilayah Ambulu, menceritakan bahwa ada seorang istri dari Wong Agung Wilis dari Kerajaan Blambangan yang hidup pada jaman VOC  (Belanda - pen) sekitar abad ke 17-an yaitu permaisuri Dewi Sukesih. Di mana Wong Agung Wilis menyuruh istrinya untuk mengungsi atau mencari perlindungan ke arah barat. 
Dewi Sukesih kemudian menuruti titah suaminya agar berusaha lolos dari kejaran tentara kompeni, dengan mengungsi ke daerah barat di luar Kerajaan Blambangan,  bersama dengan seorang abdi dalemnya bernama Abdi Kinasih, yang pada waktu itu Kerajaan Blambangan terlibat perang besar dengan VOC.  Pada akhirnya sampai terjadi pertempuran hebat yang dikenal dengan nama Perang Puputan Bayu (1771-1774).
      Dewi Sukesih yang dalam kondisi hamil bersama Abdi Kinasih lalu mengungsi melewati jalur darat melalui hutan belantara Alas Purwo Grajagan menuju daerah kulon (barat) yang masih belum terjamah dan akhirnya Sukesih melahirkan seorang putra yang diberi nama Joko Mursodo. Di kemudian hari berganti nama menjadi Pangeran Puger (Raden Mas Puger). Di mana Pangeran Puger mempunyai kakak perempuan yang bernama Sayu Wiwit yang tinggal di Kerajaan Blambangan dan ikut mengangkat senjata.   
Setelah Joko Mursodo dewasa, dia bermaksud mau mencari ayahnya yang tinggal di Blambangan. Abdi Kinasih menyarankan pada Joko Mursodo jangan mencari ayahnya, karena di daerah Blambangan masih terjadi peperangan. Dari perkataan Abdi Kinasih itu, Joko Mursodo tersinggung sampai dia berujar tidak akan memanggil nama Abdi Kinasih lagi dengan cara memukul bende ini (gong kecil) sebelum bertemu dengan ayahnya. Sampai akhirnya daerah pantai itu dinamakan Bande Alit. Kemudian Joko Mursodo meninggalkan kampung halamannya (Bande Alit) dengan meninggalkan ibunya Dewi Sukesih dan Abdi Kinasih.
Sesudah bertemu dengan ayah  dan saudaranya di Blambangan, Joko Mursodo yang juga bergelar Pangeran Puger menetap di sana sambil membantu peperangan  melawan VOC. Kemudian setelah perang usai, Joko Mursodo pulang menemui ibunya di Bande Alit. Dalam perjalanan pulang tersebut Joko Mursodo ditelan ombak yang sangat besar sampai mayatnya tidak diketemukan.
Menurut mitos dan kepercayaan masyarakat Bande Alit sampai sekarang, ada kemungkinan Joko Mursodo yang hilang itu menyatu dengan pohon besar yang ada di Pulau Nusa Barong Puger karena ada kesamaan nama yaitu “Pohon Mursodo”.
   Peninggalan yang masih ada dan berhubungan dengan Bande Alit diantaranya kuburan dari Dewi Sukesih yang terletak di belakang Kantor Resort Taman Nasional Meru Betiri Bande Alit Desa Andongrejo dan Gong Kecil yang ada di museum Pemda Jember. (Oleh : Moh. Soleh, SE - Guru SMP Islam Ambulu)


                               Keterangan  : Kuburan Dewi Sukesih di Bande Alit

Sejarah Jember, Sebuah Keniscayaan (Revisi)


Keterangan Foto : Bupati Jember "tempo doeloe" Raden Tumenggung Ario Notohadinegoro
 
      Diskursus seputar sejarah kota Jember telah menjadi bahan polemik dan perdebatan antara penulis dan teman-teman komunitas pegiat sejarah. Setidaknya kehadiran Bhattara Saptaprabhu sebagai sebuah komunitas, telah memiliki orientasi historis yang jelas untuk terus bergelut dengan fenomena masa lalu guna menyumbangkan sedikit pemikiran, menyelamatkan dan melestarikan cagar budaya di Kota Jember khususnya. Kota Jember yang masih "pulas" dalam tidur panjang sejarahnya tanpa ada yang mengusik, tampak mulai menggeliat untuk berusaha bangun guna menemukan jati dirinya yang masih  belum terang benderang.
    Komunitas Bhattara Saptaprabhu ingin mencermati lewat sebuah pengamatan, pemahaman bahkan gugatan mendalam kesejarahan, mengapa kemudian muncul nama “Jember” yang diartikan "becek". Kenapa tidak menggunakan nama "Jembar " (lapang/luas) yang berkonotasi lebih baik ?
Tentunya penamaan dan toponimi ini tak lepas dari akar sejarah dan asal mula para leluhur yang babat alas dan menetap di tanah yang dulunya merupakan sebuah sima atau tanah perdikan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Ada kemungkinan ketika para pioner dulu menjejakkan kaki pertama kalinya telah dihadapkan pada belantara dengan rawa-rawa jenuh air. Sehingga timbul istilah 'moeras' yang punya konotasi genangan air berlumpur. Lalu mereka dengan bersusah payah membuat pemukiman di tengah-tengah 'tanah becek' dan ganasnya alam liar.
       Bila dikaitkan dengan banyaknya dusun dan desa di Jember yang diawali dengan nama yang berhubungan dengan air seperti "curah", muncullah nama Curah Nangka, Curah Lele, Curah Kates, Curah Mluwo dan lainnya, atau nama "rawa" atau rowo (Jawa) seperti Rawatamtu, Rawatengah, Rawatengu, dan lainnya. Penulis punya keyakinan bahwa nama Jember berkaitan erat dengan kondisi topografinya yang didominasi dataran rendah yang subur. Bukan penamaan karena berdasar pada temuan kitab lontar atau literatur peninggalan kolonial. Di mana kemudian pemberian sebutan Jember di-foklore-kan oleh rakyat secara temurun tanpa campur tangan dari penguasa atau kaum bangsawan maupun tokoh agama.
      Bahkan ada sebuah legenda tentang nama “Djember” yang identik dengan ranah perkebunan, sehingga  kemudian disebut sebagai “Tanah Birnie”, karena kuatnya pengaruh tokoh legendaris asal Skotlandia ini. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep adalah trio perintis NV. Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD) pada sekitar tahun 1850-an.
      Sebagaimana cerita turun temurun dengan versi yang berbeda, George Birnie (?) menikah dengan wanita setempat yang bernama Djemilah dari etnis Madura pendatang di kawasan bagian utara. Birnie rupanya sangat menyayangi istrinya, bahkan ketika wanita itu meninggal dibuatlah kuburan yang cukup mentereng, bahkan paling megah pada jamannya. Model kuburan yang dibuat tidak menggunakan tradisi setempat seperti memakai cungkup dengan dua nisan sebagaimana kuburan Islam. Melainkan meniru bentuk kuburan bergaya Eropa dengan inskripsi huruf latin dengan  menyebutkan nama dan tahun yang dikebumikan di situ.
         Semenjak itu muncullah nama “Djembir”, yaitu perpaduan kata Djemilah dan Birnie, yang kemudian berubah menjadi Djember, karena pengaruh logat dan aksen setempat. Tapi asal muasal nama Jember setelah ditelusuri tidak ada kesesuaian dengan data tahun keberadaan perusahaan dan riwayat hidup George Birnie. Mungkin ini hanya hasil dari 'othak athik mathuk' dan perekayasaan yang tidak mendasar.
     Begitu kusutnya penelusuran asal usul Kota Jember yang terdengar begitu unik  dan ganjil, meskipun tidak terdapat dalam kamus dan kosa kata bahasa Sanskrit, Jawa, dan Arab. Sehingga saya punya dugaan yang konyol, jangan-jangan nama Jember ini mungkin diadopsi dari Eropa yaitu Belanda. Karena kota-kota di negara “Kincir Angin” itu banyak menggunakan huruf “e” yang bertele-tele dan banyak huruf konsonan “r” . Misalnya seperti Kota Drenthe, Gelderland, Den Helder, Heerenveen, Westerveld, Leeuwarden, Neerijnen dan sebagainya. Tapi asumsi 'ngawur' inipun masih perlu pembuktian dan kajian komprehensif, karena munculnya toponomi suatu tempat sangat mustahil muncul bila tidak berhubungan kondisi geografis, sosial budaya masyarakatnya.
        Pada era Hindu – Buddha, masa Kerajaan Singosari ini dianggap bagian dari Lamajang (Lumajang) dan Tigang Juru yang menjadi tujuan ritual kaum bangsawan, tempat berburu dan menjadi bufferzone dengan Kerajaan Bali. Sedangkan pada masa Majapahit, kawasan Jember menjadi tempat "tetirah" dan tirthayatra  Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi.
Tidak tanggung-tanggung ada sekitar 25  (dua puluh lima) tempat yang menjadi persinggahan beliau. Disebutkan nama-nama Kasogatan Bajraka, Palumbon, Rabut Lawang, Balater, Kunir Basini, Sadeng, Sarampwan, Kutha Bacok, Renes, Balung, Tumbu, Habet, Galagah, Tampahing, dll.nya telah menjadi napak tilas dari raja, pembesar kerajaan (Panca ri Wilwatikta) termasuk penulis naskah Kakawin Desawarnana, Mpu Prapanca. Bahkan sebelumnya, ketika pecah Perang Sadeng (Pasadeng) di Puger, dan Ketha di Panarukan, wilayah ini diperkirakan menjadi basis pertahanan pasukan penyerang dari Majapahit. 
     Kemudian ketika terjadi perang saudara di Majapahit yaitu Perang Paregreg (1401-1406 M.)  wilayah Jember menjadi kawasan, ajang perang dan lintasan pasukan. Begitu juga saat ekspedisi Adityawarman dan Gajah Mada sewaktu menyerang Bali.
    Pada masa kolonial Belanda wilayah ini disebut dengan Java's Oosthoek yang melahirkan Jawa  Timur, di mana oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1789 telah digadaikan pada VOC akibat ketidakmampuannya menghadapi perlawanan 'para pemberontak' Untung Surapati dan Trunojoyo. Selanjutnya pada masa perang Puputan Bayu (1771-1774), wilayah Jember yaitu Puger, Kedawung dan Nusa Barong menjadi basis pertahanan para pejuang kita melawan VOC.
       Kemudian ketika negeri Belanda dikuasai kaum liberal, dengan Open Door Policy, maka wilayah Jember disulap dan  dijadikan lahan perkebunan (afdeling) untuk tanaman tembakau pada awalnya, lalu kopi, kakao, karet selama puluhan tahun. Akibatnya membuat pundi-pundi gulden negeri tulip ini menumpuk, sementara rakyat banyak yang kelaparan. Pemerintah kolonial Belanda pada era Gubernur Jenderal De Graeff  pada tanggal 9 Agustus 1928 lewat Staatblad No. 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie Regentscappen Oost  Java, yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929 menetapkan wilayah afdeling ini menjadi regentschap (setingkat Kabupaten).
       Tanggal penetapan inilah yang dijadikan acuan sebagai hari lahir Kota Jember. Dalam Staatsblad 322 tersebut dijelaskan bahwa Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintahan desentralisasi di wilayah Propinsi Jawa Timur dengan menunjuk Regentschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Algemeene Scretaris) G.R. Erdbrink pada tanggal 21 Agustus 1928.
Berdasarkan Staatsblad 322 tersebut, diperoleh data bahwa Kabupaten Jember menjadi kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri atas 2 hal yaitu :
      1.  Pertimbangan yuridis konstitusional, dengan menunjuk pada Indische Staatsgeling (IS) yaitu  suatu Undang-Undang Pokok yang berlaku bagi negara jajahan Hindia Belanda khususnya Pasal 112 Ayat pertama. 
     2. Pertimbangan politis sosiologis, yaitu dengan mendengarkan persidangan  antara Pemerintah Hindia Belanda dalam menentukan kebijaksanaannya, memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Hal ini dapat dibuktikan dari 33 anggota persidangan yang diketuai oleh Bupati waktu itu R.T. Ario Notohadinegoro, 24 orang di antaranya adalah orang-orang pribumi.
     Yang unik adalah Pemerintahan Regentschap Djember dibebani hutang-hutang berikut bunganya sepanjang menyangkut tanggungan Regentschaap Djember.
      Dari konten Staatsblad 322 yang dibuat penjajah tersebut telah dijelaskan secara eksplisit bahwa Belanda secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling  telah melecehkan kita dengan memberlakukan sebagai daerah jajahan sesuai  ketentuan Indische Staatsgeling (IS), yaitu Undang-Undang Pokok (Tanah Jajahan) pada Pasal 112, Ayat 1.
Lebih-lebih lagi, sebagai warga Jember harga diri kita telah dijatuhkan karena keharusan membayar hutang-hutang beserta bunganya yang sudah jelas dirampok dan dijarah dari bumi Jember dengan penderitaan panjang.
 Menurut analisa penulis, ketetapan yang dituangkan dalam Staatsblad 322 berdasarkan Indische Staatgeling (IS) ini seharusnya sudah gugur secara hukum ketatanegaraan dengan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan ketika beleid penjajah ini di-regulasikan pada tanggal 6 Agustus 1928, maka 2 (bulan) kemudian kita mengumandangkan “persatuan Indonesia” lewat Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Ini artinya Staatsblad 322 sudah mulai “sekarat” dan kehilangan wibawanya.
       Apalagi ketika kemerdekaan (declaration of independence) Indonesia dideklarasikan tanggal 17 Agustus 1945 disertai dengan pernyataan penentangan dan penghapusan penjajahan lewat Preambule (Mukaddimah) UUD 1945. Tentunya dengan implikasi Staatsblad 322 itu telah cacat secara hukum dan seharusnya tidak berlaku lagi saat itu juga.
      Kemudian beberapa tahun berikutnya Republik Indonesia masuk pada era penting yaitu Pengakuan Kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949 yang dilaksanakan di dua tempat yaitu di Den Haag dan di Jakarta. Di Jakarta naskah pengakuan kedaulatan ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan putera mahkota Kerajaan Belanda AHJ. Lovink. Maka sebagai konsekuensinya penjajahan Belanda sudah berakhir di Indonesia, dan secara otomatis pula segala produk perundang-undangan dan segala tetek bengeknya sudah selesai. Termasuk pemberlakuan Staatsblad 322 waktu itu juga.
       Kesimpulannya Staatsblad 322 sudah “dihabisi” tiga kali sejak tahun 1928 (Sumpah Pemuda), 1945 (Proklamasai Kemerdekaan) dan 1949 (Pengakuan Kedaulatan). Namun hebatnya, kesaktian dan kekeramatan Staatsblad 322 betul-betul telah jadi mitos yang sulit dibongkar dan dihilangkan.
       Memang sangat disesalkan karena satu-satunya kota di Nusantara yang mengakomodir sejarah kotanya dari warisan penjajah hanyalah Jember. Tentunya dengan dalih Staatsblad 322 secara de facto dan de jure telah menyebutkan wilayah tersebut berupa kabupaten (Regentschap). Terlepas itu sudah menjadi suratan sejarah Jember yang ditakdirkan menjadi bagian dari penjajahan Belanda. Dalam hal ini sejarah Jember sangat kontradiktif dengan sejarah kabupaten atau kota-kota di Jawa Timur yang rata-rata muncul pada era pra-Majapahit. Padahal banyak sekali peninggalan sejarah kuno di “Kota Suwar-Suwir” ini yang bisa dijadikan "tatenger". Misalnya Prasasti Congapan yang ditemukan di Desa Karang Bayat Kecamatan Sumberbaru yang berangka tahun 1088 (Tlah sanak pangilanku - tahun saka). Prasasti ini bisa dijadikan rekam jejak untuk melandaskan sejarah keberadaan kota tembakau ini. Ada juga reruntuhan Candi Deres di Desa Purwo Asri Kecamatan Gumukmas, yang merupakan peninggalan masa Majaphit.
     Selain itu situs bersejarah bekas reruntuhan bangunan suci Majapahit di Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan dan Mayang. Selain itu ratusan situs Megalithik yang tersebar di beberapa tempat dan sebagian masih bias diselamatkan adalah Situs Batu Gong di Rambipuji, Situs Doplang di Kamal Arjasa, Situs Simo di Sukowono, dll.nya
       Dengan cukup banyaknya peninggalan sejarah,  penulis merasa kecewa karena para budayawan dan sejarawan yang notabene para pakar terkesan diam dan pasrah, tidak berusaha mencari sisik melik  serta membongkar akar sejarah Jember. Apa salahnya kalau mereka mencoba menelaah dan menafsir Kitab Pararaton, Desawarnana (Nagarakretagama), Prasasti Congapan dan Prasasti Mula Malurung, serta Prasasti Butak yang banyak terkait dengan belahan Jawa bagian timur ? Bukankah masih banyak hal-hal yang masih tersirat dan missing link dari kitab dan prasasti tersebut ?
Atau dengan membentuk pilot project dan  tim untuk menelusur sejarah Jember. Termasuk memburu data dan sumber-sumber sejarah di Eropa khususnya Belanda. Penulis punya keyakinan bahwa besar kemungkinan tentang keberadaan babad atau serat yang terkait dengan Jember. Karena ribuan naskah kuno telah diangkut sejak masa penjajahan ke Belanda khususnya. Kalau memang nanti ditemukan sumber sejarah kuno yang berhubungan dengan Jember, tidak ada salahnya kalau kemudian di-review, di-re-interpretasi dan di-revisi atau diganti. Why not ?
.
(Oleh : Zainollah, S.Pd dan Heru Santoso, S.Pd)

 
 Keterangan Foto  :  Candi Deres,  monumenal era kebesaran Majapahit masa Hayam Wuruk yang  
 tersisa di Desa  Purwo Asri, Gumukmas  Kabupaten Jember.




Jumat, 01 Februari 2013

Menguak Peradaban Yang Hilang


      Peradaban (civilization) adalah  ukuran  suatu bangsa dalam mencapai kesempurnaan akal pikiran, budi dan daya sebagai bentuk reaksi terhadap adanya tantangan alam. Setiap bangsa tidak sama dalam mencapai taraf dan tahapan peradabannya. Kondisi geografis, pola pikir dan karakter sangat menentukan peradaban, termasuk interaksi dengan bangsa lain. Peradaban dan kebudayaan akan terus berkembang seiring makin kompleksnya tantangan kehidupan yang dihadapi manusia. 
Kemajuan teknologi adalah bagian peradaban sebagai wujud terciptanya kemampuan mengadaptasi manusia dengan kebutuhan.
       Namun peradaban tidak selalu berbanding lurus atau identik dengan kemajuan dan kemahiran teknologi, bahkan kadang sebaliknya. Ada kecenderungan semakin maju suatu bangsa makin tenggelamlah peradaannya. Peradaban negara-negara seperti Mesir, Yunani, Irak, dan lainnya yang sangat adiluhung pada masa-masa sebelum Nabi Isa lahir (tahun Masehi) kini hanya teronggok berupa Piramida, Sphinx, Obelisk, Parthenon dan Colosseum.  Kehebatan nenek moyang mereka dalam membangun sebuah Piramida tidak bisa dibandingkan dengan pembangunan Menara WTC atau bangunan modern lainnya. Karena essensi dan substansinya sudah berbeda. Susunan ribuan kubik batu di mana sebuah batu hanya bisa bergeser bila ditarik dengan tenaga 15.000 orang atau sama dengan 1000 ekor kuda benar-benar pekerjaan yang sangat fantastis dan menakjubkan.
      Di bumi pertiwi keajaiban itu bisa dilihat pada bangunan Candi Borobudur, Candi Prambanan dan candi-candi lain yang pembuatannya begitu indah dan mempesona. Seorang Gunadharma sebagai seorang arsitek mampu menerjemahkan gagasan dari Samarottungga dalam mencipta, rasa dan karsa sebuah Bhumisambarabudara. Luar biasa, bagaimana mungkin sebuah batu kali dipotong dengan rapi, simetris dengan bekas "sayatan" seperti pisau tajam yang mengiris roti. Teknologi metalurgi macam apa yang digunakan para ponggawa Wangsa Syailendera dalam memahat, mengiris, memotong kerasnya batu-batu kali itu lalu kemudian merekatkan satu sama lain. Para empu pada masa itu telah mampu membuat baja sejenis karbon dengan kualitas lebih baik dari bahan baja pedang katana dari Jepang. Bahkan mungkin hanya bisa ditandingi oleh pedang pasukan muslim dalam Perang Salib dari baja dengan teknologi nano sekitar 500 tahun kemudian. Konon para pande besi juga telah menciptakan keris dahsyat dari batu meteor hanya berdasarkan wangsit dan laku tirakat. Maka lalu lahirlah karya masterpiece seperti keris Mpu Gandring, Kiai Condong Campur, Kiai Sangkelat dan Kiai Nagasasra-Sabuk Inten.  
        Kebudayaan kita dengan kemampuan menciptakan candi dari batu kali yang kokoh dengan keahlian metalurgi sejak abad ke-5 berkembang makin sempurna. Namun seiring makin jauhnya manusia dari essensi peradaban utamanya pada peng-agung-an mahakarya mereka kemampuan itu sudah tidak dimiliki oleh generasi berikutnya. Andaikata para arsitek modern membuat dan "mengolah" batu menjadi candi maka kita yakin hasilnya tidak akan se-estetis candi-candi masa lampau. Belum lagi aura dan wibawa bangunan itu hanya kelihatan seperti "benda mati" yang abstrak. Benarlah kalau kita menyebutya sebagai peradaban yang hilang (lost civilization). Zainollah, S.Pd - Koordinator Forum Bhattara Saptaprabhu