Kode Iklan

Minggu, 04 Mei 2014

SYEKH H. MOHAMMAD NOER : 9 Tahun Melakukan Kholwah Suluk Mujahadah


        
Biografi Bagian - 3
Disusun oleh : Zainollah, S.Pd (Koordinator Forkom Bhattara Saptaprabhu)

    Ada lagi hal aneh yang beliau katakan, yaitu tatkala dzikir setiap masuk dan keluarnya nafas dalam sehari semalam sebanyak 124.000 selama 7 (tujuh) hari, dan tidak tahu pasti entah kalimah yang mana. Terus beliau berjalan melalui alam mulki, alam malakut, alam jabarut, alam barzakh, alam akhirat, dan alam amar, yang kala itu waktu pingsan. Lalu para santri yang alim berilmu secara bersama membuka kitab tasawwuf tentang mujahadah bagaimana metodenya bisa sampai dan mencapai tingkatan ‘auliya’, lalu dicocokkan dengan perjalanan wali quthub yang terdahulu. Tapi karena belum ada saksi (syahid) yang mengetahui, maka para sahabat dan santri belum berani mengatakan jika Syekh Haji Mohammad Noer sudah mencapai derajat Wali Quthub.
    Syekh Haji Mohammad Noer telah melaksanakan suluk kholwah mujahadah selama 9 (sembilan) tahun. Tepatnya pada hari Jum’at tanggal 26 Maulid tahun 1339 Hijriyah (tahun 1919), beliau mengalami pingsan selama 1 jam 45 menit. Inilah yang dinamakan wushul (sampai) kepada Robbul ‘Izzati, Dzat yang Maha Pemenang.
Maqom seperti inilah yang dinamakan maqom ma’rifah musyahadah bil ayani, sebagaimana yang dijelaskan dalam Kitab Kifaayatul Adzkiya’ pada bait ke-8 yaitu :
   “Hakekat ialah sampainya salik kepada yang dituju dan bersaksi (melihat) akan adanya Nur Tajalli (Allah), melihatnya dengan jelas, dan itulah nikmat yang paling agung”.
   Selanjutnya disebutkan dalam Kitab Al-Hikam pada halaman 74 yang menjelaskan  bahwa pingsannya beliau selama 1 jam 45 menit dinamakan “Salikina” atau “Majdubina”. Para hamba Allah SWT yang sudah wushul (sampai) kepada Allah dibagi menjadi 2 bagian.
   Pertama yang dinamakan dengan  Salikiin, yaitu ialah mereka yang mengambil dalil setelah melihat suatu kekuasaan Allah, dan mereka berkata,“Saya melihat Allah SWT sesudah saya melihat sesuatu kekuasaan Allah”.
     Kedua yang dinamakan Majdubiin, yaitu mereka yang mengambil dalil sebelum melihat sesuatu kekuasaan Allah dan mereka berkata, “Saya melihat Allah SWT.sebelum saya melihat sesuatu kekuasaan Allah”.
Kemudian para ulama dan para santri yang alim-alim membuka kitab tasawwuf tentang mujahadah sampai mencapai ‘auliya. Hal itu dicocokkan dengan perjalanan Syekh Haji Mohammad Noer yang ternyata sama dengan perjalanan para auliya’ quthub yang terdahulu, tapi karena belum ada syahid (saksi yang kuat), maka para sahabat dan santrinya belum berani mengatakan jika beliau sudah mencapai derajat wali quthub. Para ulama yang bersangkutan memberikan klasifikasi tingkatan iman sebagai berikut :
   1. Iman orang mukmin sewaktu masih ulama yang imannya yaqiin. 2. Kalau mujahadah Syekh Haji Mohammad Noer pada masa 6 (enam) tahun itu maqom muraqabah dan imannya ‘ainul yaqiin dan suluknya dinamakan Suluk Abrar. 3. Pada masa 3 (tiga) tahun disebut maqam musyahadah dan imannya haqqul yaqiin dan suluknya Suluk Muqarrobin. 4. Setelah Inkisyaf namanya maqam istighraq dan imannya dinamakan haqiiqatul yaqiin. Yang dimaksud dengan istighraq fana artinya ialah telah hilang sifat madzmumah (tercela), lalu istighraq baqa’ artinya adalah telah menetapnya sifat mahmudah (terpuji) yang sudah smpai di hadapan Allah SWT karena terbawa kalimat thoyyibah. Amal sholeh telah sampai di alam amar yaitu alam yang tidak ngalaf jihat (arah) utara, barat, selatan dan timur serta seterusnya karena Allah SWT itu ngalaf arah, tidak ngalaf tempat ruang dan waktu.
Kalimat thoyyibah dan amal sholeh beliau naik dengan membawa 4 (empat) ruh sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :
 “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang sholeh menaikkan-Nya”.

1.      Ruh Robbani 
2.      Ruh Rohani  
3.      Ruh Idhofi  
4.      Ruh Jasmani

"Dan apabila mereka bertanya 
kepadamu tentang ruh, katakanlah
(bahwa) ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentang ruh) melainkan sedikit “.

        Selanjutnya tidak ketinggalan Syekh Haji Mohammad Noer mengatakan kepada Kiai Abdul Hadi Shiratol Mustaqim sebagai berikut :
   “Hai, Abdul Hadi, inilah ilmu ilham, tulislah alif, dza’, dal (1 - 7- 4) dan seterusnya”. Beliau mengatakan itu jelas berada di Lauhul Mahfudz dengan memakai angka alif, dza’, dal yang mempunyai makna :
·                      1  Artinya Gusti Allah yang Maha Esa atau Tunggal.
  7  Artinya sifat Allah yang ma’ani yang ada 7 (tujuh) yaitu Kodrat, Irodat, ‘Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar dan Kalam
  4  Artinya fi’il Gusti Allah yang ada 4 (empat) yaitu Jisim, Jirim, Jauhar, dan ‘Arodh. Karena Ruh Robbani-Nya beliau melihat Nur Tajalli atau Allah SWT dengan nyata, maka beliau senantiasa :
1.      Rino wengi (siang dan malam) cinta kepada Allah SWT.
2.    Rino wengi (siang dan malam) senang kepada Allah SWT.
3.     Rino wengi (siang dan malam) rindu kepada Allah SWT.
       Ibarat orang yang layaknya bepergian yang datang membawa buah tangan, sama halnya dengan orang yang pergi menuntut ilmu tentu pulang membawa ilmu, bahkan orang yang pergi undangan walimahan (pernikahan) pulangnya membawa nasi berkat. Apalagi orang yang menghadap Yang Maha Rahman oleh-olehnya tentu sangat istimewa.
Setelah beliau wushul (sampai) pada Allah SWT Syekh Haji Mohammad Noer melaksanakan Suluk Mujahadah selama 9 (sembilan) tahun dengan oleh-oleh Ilmu Mukashafah atau Ilmu Ilham yang berupa :


13
3
3
4
3
7
3
14
4
5

15
6
15
6
4
8
4
3
30
50

  Oleh-oleh atau “berkat” tersebut merupakan tulisan dengan cara ringkas dari beratus-ratus kalimat, beribu-ribu huruf yang diringkas hanya seperti itu dan beliau mengatakan harus diamalkan dan dibaca dengan artinya sekali. Misalnya angka 3 (tiga) dibaca dengan maknanya atau 5 (lima) juga harus berbunyi 5 (lima) dengan maknanya sekali. Dan ini tugas dari yang memberi yaitu Syekh Haji Mohammad Noer, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 79 yang artinya :
      “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”
    Adapun Ilmu Mukashafah atau Ilmu Ilham tersebut telah tersusun menjadi sebuah buku yang dinamakan “ Bait Dua Belas “. Pada setiap tahun tanggal 26 Maulid selalu diadakan peringatan turunnya karomah dan wafatnya (khoul) beliau.
    Ada sebuah kisah menarik yaitu seorang ahli wirid di Mekkah Al-Mukarromah yang bernama Sayyid Hasan. Dikisahkan tatkala beliau suntuk i’tikaf di bawah Talang Mas di Baitullah dengan memohon petunjuk kepada Allah SWT sehubungan dengan banyaknya berbagai aliran agama, dan aliran manakah yang akan diikutinya. Maka selanjutnya Sayyid Hasan bermimpi dijumpai Rasulullah SAW bersama seseorang yang mengikuti di belakangnya sampai begitu jelas rupanya, tubuhnya, pakaiannya, tempat tinggalnya, kolamnya yaitu ternyata Syekh Haji Mohammad Noer.
Lalu Rasulullah SAW berkata sambil menunjuk kepada orang yang mengikutinya.
    “Ya, ini zaman yang haq kamu ikuti, dan orang inilah yang harus kamu cari di Tanah Jawa – Indonesia”. Lalu Sayyid Hasan-pun terbangun.
Sesudah itu kemudian Sayyid Hasan lalu bermusyawarah dengan Sayyid Abdurrahman, dan menyampaikan tentang mimpinya yang berjumpa dengan Rasulullah SAW.
Sayyid Abdurrahman mengatakan wajib mencari dan mendatangi orang itu serta memperhatikan (ucapannya). Kemudian juga wajib pasrah kepada orang itu karena merupakan hak dari wali quthubul ghouts.
    Maka kemudian berkemaslah Sayyid Hasan untuk berangkat menuju Indonesia bersama dengan Sayyid Abdurrahman. Sampai di Surabaya beliau istirahat di rumah saudaranya yang juga berasal dari Mekkah, dengan memberikan penjelasan tentang mimpinya. Sayyid Hasan juga mendengar kabar bahwa di Desa Kemuningsari Lor Panti Jember ada seorang Kiai yang baru terbuka karomah-nya. Maka Sayyid Hasan segera bergegas berangkat menuju arah timur ke tempat yang bernama Desa Kemuningsari Lor untuk membuktikan.
     Sampai di Desa Kemuningsari Lor, begitu masuk persis dan pas seperti apa yang tergambar dalam mimpinya ketika di bawah Talang Mas (Baitullah).
Kebetulan waktu itu Syekh Haji Mohammad Noer sedang keluar dari mesjid, lalu menengok ke arah selatan terlihatlah Sayyid Hasan dan Sayyid Abdurrahman yang sedang berada di bawah pohon mangga (kuweni) yang terletak di sebelah selatan kolam.
Kebetulan pada waktu itu di rumah beliau banyak tamu yang datang, maklumlah beliau sudah sangat kesohor di mana-mana. Bahkan banyak yang menyangka beliau adalah seorang dukun atau klenik.
Setelah kedua tamu itu sampai di muka mesjid dan beliau turun menyambut, maka kedua tamu jauh itu memberi salam. Beliaupun menjawab serta mengucapkan kalimat “Marhaban, marhaban bil akhissholih”. Kemudian mereka berdua bersalaman dan sang tamu asing itu merangkul dengan akrab sambil mengatakan “Hadza maulanal waliyyus syahiiru wal quthbul kabiir”, sambil masuk ke dalam rumah.
    Dengan peristiwa itu Sayyid Hasan yang mengetahuinya dan para ulama yang bertamu di Pesantren Kemuningsari Lor juga ikut menyaksikan, maka selanjutnya para ulama dan para santri yang alim bersama-sama membuka kitab tentang auliya’. Ternyata Syekh Haji Mohammad Noer dengan memulai khalwah suluk mujahadah sama persis dengan methode  para wali quthub auliya’yang terdahalu.
Kemudian para ulama yang ada di pondok berani mengatakan dan menyimpulkan hak 'Wali Quthubul Ghouts,' karena fenomena itu memberikan tanda dan isyarat yang tepat. Lalu para santri bersama-sama dengan berani menulis dan mengatakan quthubul ghouts.
     Oleh karena itu tidak mudah untuk mengatakan waliyullah, bahkan kalau tidak hati-hati akan menyimpang dari Kitab Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ tentang auliya’.
Juga perlu untuk diteliti dan dicocokkan dengan asal mula orang yang sudah dikatakan sebagai wali seperti yang pernah dibahas, karena masalah turunnya kewalian seperti dalam Bait Dua Belas pada Kitab Fathul Arifina Billah menyebutkan tentang sifat-sifat auliya’ ada sebelas yaitu kekasih Allah, terpelihara dari perbuatan maksiat, berserah diri pada Allah, berbakti pada Allah dengan tidak putus-putus, memastikan akan adanya dzat Allah, tahu sifat Allah, tahu fi’il Allah, tahu nama-nama Allah, mengikuti ajaran Rasulullah, dan  semua yang terjadi di dunia diberi tahu oleh Allah.
  Setelah peristiwa kedatangan dua orang ulama dan mursyid dari Mekkah yang kemudian memberikan kesaksian, maka para alim ulama dan para santri telah berani mengambil keputusan dan kesimpulan dengan menyatakan secara tertulis bahwa Syekh Haji Mohammad Noer adalah seorang wali dengan derajat Quthubul Ghouts yang memperoleh karomah Bait Dua Belas.
Sehingga dengan adanya pernyataan secara terbuka inilah menyebabkan terjadinya pro dan kontra serta opini yang ditanggapi secara beragam. Ada yang mengatakan bahwa faham yang dibawa Syekh Haji Mohammad Noer adalah sesat dan dianggap kontroversial. Bahkan ada yang langsung mengikuti pengajian beliau dengan mengkaji Bait Dua Belas.   
    Munculnya dua pendapat yang saling bertentangan dan menjurus pada polemik berkepanjangan menyebabkan perdebatan yang berujung pada ketegangan (mujadalah) termasuk di kalangan ulama sendiri. Untuk menghindari ketegangan itu dicarilah solusi yang diprakarsai oleh KH. Muzayyin Rambipuji dan KH. Wahab Hasbullah Surabaya (Pengurus PBNU) dengan mengundang dialog Syekh Haji Mohammad Noer guna mengklarifikasi (tabayyun) tentang ajarannya.
        Acara dilaksanakan pada tahun 1933 di Kantor Kawedanan Rambipuji Jember yang pada waktu itu Said Hidayat menjabat sebagai Wedana. Sidang dimulai pada pukul 08.00 pagi yang disaksikan juga oleh Kontaralir/Bupati Jember dan 173 ulama dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Pada pembukaan sidang yang langsung dipimpin oleh Kontarolir Jember (istilah untuk Bupati kala itu) telah disampaikan perkataan seperti berikut.
     “Saudara Kiai, anda diminta untuk menjelaskan ajaran dalam kitab Bait Dua Belas. Kalau saudara ternyata tidak mampu memberikan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan, maka saudara tidak boleh lagi mengajarkan kitab itu, atau akan kami musnahkan”.
     Dalam sidang tersebut Syekh Haji Mohammad Noer dapat menjelaskan semua pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan sangat jelas, lugas dan meyakinkan. Sehingga sidang memutuskan bahwa ajaran beliau tidak bertentangan dengan syara’ maupun sunnah Rasulullah SAW.
     Setelah “pengadilan” itu usai, Syekh Haji Mohammad Noer pulang kembali ke rumahnya dengan diantar oleh Wedana Rambipuji Said Hidayat dan tiba pukul 18.00.
Sebelum beliau tiba kembali keluarga di rumah, para sahabat dan para santri merasa khawatir sekali karena orang yang mengantar beliau naik dokar yaitu Pak Sadeli telah pulang terlebih dahulu pada pukul 10.00 siang. Kemudian beliau ditunggu mulai habis sholat Dzuhur sampai dengan habis sholat Ashar juga tidak kunjung tiba, sehingga semua yang menunggu jadi was-was.
semuanya berjalan dengan lancar dan pengajian Bait Dua Belas tidak dipermasalahkan.
     Sementara itu klarifikasi (tabayyun)  dan dialog tentang kitab 'Bait Dua Belas' bergulir terus karena disebabkan oleh 3 (tiga) hal yaitu bahasanya yang unik, model sistem bacaannya, dan predikat sebagai ilmu ilham.
Adapun kemudian klarifikasi dan dialog terjadi lagi yaitu di Banyuwangi antara Kiai Imam Puro (sahabat beliau) dengan beberapa ratus kiai dan ulama. 
      Peristiwa spiritual yang dilanjutkan dengan tabayyun tersebut disampaikan oleh KH. Abdul Hadi  Shiratol Mustaqim selaku sekretaris beliau, yang kemudian dipanggil ke Jakarta oleh pejabat Menteri Agama dan Ajudan Presiden Bapak   Soegandhi di Jakarta pada tahun 1961. Klarifikasi ini merupakan puncak dari perdebatan dan opini karena Menteri Agama RI telah menerbitkan sertifikat dan rekomendasi tentang keabsahannya yang terdaftar di  Departemen Agama RI Bagian “K” Kepala Seksi IV pada tanggal 14 Pebruari 1961 sebagai Keluarga Besar Arifin Billah dengan Ilmu Mukashafah yang diberi nama Bait Dua Belas.
    Setiap hamba atau manusia yang dikasihi oleh Allah SWT diberi keistimewaan–keistimewaan yang berbeda tergantung pada tingkat keimanan dan ketaqwaan, serta amal ibadah dan amal sholeh juga tingkat kesabaran dan keikhlasannya.
Keistimewaan-keistimewaan tersebut  yang diberikan oleh Allah SWT. kepada hamba-Nya yang dikasihi, sehingga akal manusia tidak mampu untuk memikirnya. Di antaranya adalah para Nabi yang diberi mukjizat, para wali oleh Allah yang diberi karomah, para ulama yang diberi ma’unah dan para orang awam yang diberi assidqu (keterampilan dan kelebihan).
       Adapun pengertian karomah dalam Kitab Ushul Auliya’ halaman 160 disebutkan :
    “Dan adapun beberapa para wali adalah suatu anugerah atau kemuliaan dari Allah Ta’ala memberikan sesuatu yang luar biasa dan menyimpang dari adat kebiasaan”.
      Tentang terjadinya karomah pada seorang wali adalah bersifat jaiz, namun bagi para ahli ilmu dan ahli ma’rifat dapat dibuktikan guna membedakan antara wali yang benar dengan orang-orang yang mengaku-ngaku (pembohong) dan telah mengetahui (ma’rifat) kepada Allah SWT.
      Adapun beberapa karomah Syekh Haji Mohammad Noer antara lain :
1. Kemampuan dapat menjalankan ibadah sholat berjamaah pada awal waktu sampai akhir hayatnya.
2.   Dapat mengetahui hal-hal yang disembunyikan oleh seseorang.
3. Terbukanya kalam nafsi bumi dan seisinya sehingga mengerti bahasa semua binatang, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan, dan lain-lain seperti yang telah dijelaskan di awal.
4.  Mengetahui saat masuknya waktu-waktu sholat fardhu 5 waktu maupun sholat sunnah karena waktu itu sendiri yang akan memberitahukan. Misalnya sholat fardhu seperti waktu dhuhur, “Assalamu’alaikum saya adalah dhuhur”. Begitu juga sholat sunnah waktu tahajjud “Assalamu ‘alaikum saya adalah tahajjud” dan lain-lainya.
Maka beliau tidak menggunakan jadwal waktu sholat atau jam karena waktunya datang sendiri untuk memberitahukan.
5.   Suatu kisah pada waktu musim kopi tiba, banyak orang kampung yang menjual kopi hasil panen kepada Nyai Munirah (istri Syekh Haji Mohammad Noer). Hingga suatu saat sampai mencapai 9 karung banyaknya. Karena banyaknya kopi yang dibeli dari masyarakat, ada orang yang melaporkan kepada Sinder dan Asisten Sinder Perkebunan milik Belanda. Ditengarai kopi itu merupakan kopi hasil curian dari laha kebun, maka rumah beliau didatangi oleh 3 (tiga) orang yaitu Sinder, Asisten Sinder dan Pelapor. Mereka menggeledah rumah dengan menusuk-nusuk 9 karung kopi itu. Namun ternyata yang tampak adalah kacang tanah, dan Sinder itu berkata, “Bapak Kiai koq banyak kacangnya ?”. Beliau menjawab dengan enteng, “Iya, ini anak-anak santri yang baru panen”. Alhasil kopi dalam karung itu memang tampak seperti kacang tanah di mata mereka.
6.    Memperoleh Ilmu Ilham dari Allah SWT berupa Bait Dua Belas dan inilah yang dianggap oleh para sahabat Syekh Haji Mohammad Noer sebagai karomah terbesar.

   Pada tahun 1946 beliau wafat di usia 138 tahun, suatu usia yang amat panjang dan telah dimanfaatkan untuk ibadah dengan menjauhi kehidupan duniawi. Kepergiannya diiringi oleh ribuan umat yang mengantar sampai ke peristirahatan terakhirnya di komplek Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti Kabupaten Jember.
Dengan kepergiannya maka suasana pondok berubah menjadi sepi, tidak banyak lagi tamu yang menimba ilmu dan bertukar fikiran atau meminta sawab beliau.
    Untuk mengembalikan suasana seperti semula, maka para santri, sesepuh dan kerabat pesantren bermusyawarah agar setiap tahun diadakan pertemuan atau reuni para alumni, jama’ah dan simpatisan beliau. Waktunya ditetapkan sesuai dengan turunya karomah beliau yang terbesar yaitu Bait Dua Belas tepatnya setiap tanggal 26 Maulid.
Reuni ini diprakarsai oleh 4 (empat) orang kiai yaitu Kiai Muksin, Kiai Sudja’i, Kiai Sanwani dan Kiai Djajadi. Reuni dan peringatan itu telah disepakati oleh karib beliau yaitu Syekh Haji Abdul Hadi Shiratol Mustaqim Curah Bamban Kecamatan Tanggul.
Reuni atau pertemuan ini berlangsung setiap tahun tiap tanggal 26 Maulid yang sampai sekarang dikenal dengan nama Peringatan Hari Ulang Tahun Karomah Syekh Haji Mohammad Noer RA.
     Acara ini selalu ramai, gegap gempita dan meriah sekali karena diikuti oleh ribuan jama’ah dari berbagai penjuru tanah air dan negeri jiran.
      Adapun tentang riwayat Syekh Haji Abdul Hadi Shiratol Mustaqim adalah seorang ulama sahabat yang sangat luas ilmunya. Beliau dilahirkan di Desa Pengadikan, Kecamatan Rogojampi,  Kabupaten Banyuwangi.
Beliau banyak mengenyam pendidikan di berbagai pesantren Pulau Jawa dengan mondok di satu tempat dan berpindah ke tempat lainnya.
Pada tahun 1908 beliau menimba ilmu di Pesantren Demangan Bangkalan Madura yang diasuh oleh ulama besar KH. Mohammad Kholil (sekarang Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Demangan Bangkalan).
   Ketika beliau hendak mudik dari Bangkalan ke Lumajang (mengikuti pamannya tinggal di Lumajang), Kiai Shiratol Mustaqim mendapat beberapa pesan dari KH. Mohammad Kholil yang sebagian di antaranya disampaikan oleh beliau.
    “Dengarkan, ada di daerah 'Ning- ning 'Jember seorang Kiai tapa lamanya 9 (sembilan) tahun, Allah telah mengangkat derajatnya sebagai Sulthanul Auliya’il Quthub, sowanlah kamu ke sana sebab ilmu ilhamnya tanpa kamu tidak akan tersebar luas”.
      Pesan dari gurunya itu kemudian dilaksanakan dengan niat akan menemui ulama yang dimaksud. Sebelum ke Jember beliau terlebih dahulu beliau singgah di Mesjid Ampel Surabaya, kemudian naik kereta api jurusan Surabaya – Lumajang. Di Lumajang terlebih dulu mampir di Desa Serbet di rumah pamannya (Jawa, Pakde) yaitu Kiai Said.
Kiai Shiratol Mustaqim berkeinginan mempelajari Tarekat Naqsyabandiyah namun belum menemukan guru (mursyid) yang sesuai hatinya. Hal itu disampaikan pada pamannya tentang keinginan belajar tarekat. Terjadi diskusi dan dialog antara KH. Abdul Hadi Shiratol Mustaqim dengan Kiai Said tentang bagaimana dengan sifat-sifat dan figur guru spiritual tarekat.
      Kiai Said kemudian memberikan deskripsi tentang seorang guru tarekat menurut pengalamannya ketika berguru pada Syekh Haji Mohammad Noer di Kemuningsari Lor.
Selain itu dijelaskan bagaimana guru (mursyid) beliau adalah orang yang ahli puasa, tidak ada puasa sunnah yang ditinggalkan, utamanya amalan wajib.
Dikisahkan, untuk mewejang murid-muridnya sang guru menggali lobang sebanyak 40 (empat puluh) liang, dan satu persatu para santri tersebut masuk ke dalamnya selama 40 (empat puluh) hari. Mereka tidak boleh keluar kecuali buang air atau ada orang yang meninggal dunia. Tatkala dibaiat para santri diberi notes (catatan) untuk mencatat dzikir yang kurang bilangannya, harinya, tanggalnya dan bulannya. Semuanya harus dicatat sebab dzikir kalimah toyyibah (La ilaha illallah) dan harus dibaca sebanyak 124.000 kali dalam satu hari satu malam.
    Setelah sampai 40 hari guru mursyid tarekat memerika satu persatu catatan para santrinya. Ternyata setelah dibuka ternyata tidak ada satupun murid yang memenuhi dzikirnya. Hari pertama punya hutang, hari kedua punya hutang, dan seterusnya punya hutang. Kemudian guru mursyid itu mengatakan :
   “Kalian semua punya hutang kepada Allah, sebab kalian akan menepati janji kepada saya. Sebagai guru kalian, biarlah saya yang bertanggung jawab dan melunasi hutang dzikir kalian pada Allah. Selanjutnya kalian diperbolehkan keluar dari lobang dan bersyukurlah kepada Allah. Tanda-tanda bersyukur itu ada 3 (tiga) yaitu : bersyukur hati yaitu selalu ingat, cinta, rindu dan dzikir pada Allah. Bersyukur anggota badan, yaitu badan kita digunakan untuk perbuatan yang sholeh dan diridhoi Allah. Bersyukur harta yaitu mengeluarkan zakat dan shodaqah”.
   Para murid lalu pulang ke rumahnya untuk mengadakan tasyakuran 40 hari baiat mereka. Selanjutnya banyak yang memotong ayam, membeli ikan dan sebagainya Setelah masak makan dibawa ke serambi pondok untuk acara makan bersama.
Untuk pembacaan do’a para santri mengundang gurunya untuk pembacaan doa. Sang Kiai berpesan selama pembacaan do’a haruslah khusyu’, tawaddhu’ dan mantap dalam membaca lafaz “amiin”.
     Pada saat guru mursyid itu membaca do’a pada pertengahan terjadilah keajaiban yaitu ikan-ikan dan ayam yang dimasak semuanya hidup kembali sambil menyerukan kalimat “La ilaha illalah, Muhammadur rasulullah, Syaikh Abdul Qadir Jailany waliyullah”.
Kemudian selanjutnya ikan-ikan dan ayam itu kembali dalam bentuk semula menjadi lauk pauk. Selanjutnya Sang Mursyid memerintahkan kepada para murid untuk menyantap makanan sampai habis. Selanjutnya para murid disuruh pulang ke rumah dengan bersilaturrahim dan minta maaf seperti pada waktu hari raya termasuk juga menyampaikan salam dari Sang Mursyid.
    Sesudah mengisahkan pengalamannya berguru, Kiai Said kemudian menangis dan merasakan rindu pada gurunya. Beliau kemudian mengambil buku dan diserahkan kepada Kiai Shiratol Mustaqim dengan berpesan agar mencari guru tarekat seperti yang ada di buku tersebut.
     Setelah banyak memperoleh masukan tentang ajaran auliya’ itu selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan mencari mursyid tarekat.
Beliau telah lama berkelana menemui sekitar 14 orang ulama atau kiai tarekat dari berbagai aliran seperti Naqsyabandiyah, Qodiriyyah, Syadzaliyyah, Syattariyah, Tijaniyyah, Ghozaliyyah, Umariyyah, Ahmadiyyah dan lain-lainnya. Namun dari semua ulama tarekat itu juga tidak ada yang pas atau cocok dengan Kiai Said. Kiai Said menyerahkan sebuah catatan kepada beliau agar kelak diberikan pada guru yang akan didatanginya.
    Setelah beberapa tahun, ada seorang teman KH. Abdul Hadi Shiratol Mustaqim yang datang menyampaikan berita tentang kehebatan Syekh Haji Mohammad Noer yang konon dapat terbang ke angkasa sampai menyelam dan menembus 7 lapis bumi. Tentu saja Kiai Shiratol Mustaqim marah karena cerita itu dianggap membual dan berlebihan. Orang itu ditegur oleh beliau dan disuruh bicara yang benar atau kalau tidak bisa diam saja. Maka orang itupun terdiam dan menurut karena beliau tidak suka.
Kiai Shiratol Mustaqim tahu cerita itu hanya terdapat dalam kisah pewayangan (Kitab Mahabharata) di mana yang bisa terbang hanya Gatotkaca dan yang menyelam ke bumi hanya Antasena. Keduanya adalah anak dari Werkudara atau Bratasena yang merupakan putra dari Raden Pandu Dewanata.
      Namun setelah si tamu pulang, Kiai Shiratol Mustaqim merasa gemetar, hatinya menjadi gundah dan takut. Bulu romanya berdiri, beliau telah merasa bersalah melakukan dosa ghibah, suatu dosa menurut pandangan Islam yang besarnya 30 kali perbuatan zinah. Beliau sangat  menyesal, rasa sesal yang menghantuinya sampai terbawa tidur dan beliau bermimpi berada di tengah sawah sambil merawat tanaman padi di bawah terik sinar matahari yang panas menyengat.
     Beliau sangat terperanjat dan terbangun, namun masih tetap merasakan sengatan sinar matahari di sekujur badannya. Peristiwa itulah yang mendorong hati sanubarinya untuk mencari dan sowan kepada Syekh Haji Mohammad Noer. Maka dengan segera beliau berangkat dengan naik kereta api dari Lumajang dan turun di Stasiun Petung, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Desa Kemuningsari Lor. Tiba di kediaman Syekh Haji Mohammad Noer saat sholat Ashar tiba, beliau mendekati Syekh Haji Mohammad Noer sambil menyerahkan sebuah buku catatan.
Selanjutnya wali quthub itu menerima buku itu sambil dibuka dengan mengatakan,
    “Di zaman sekarang ini kamu tidak bisa mengamalkan seperti ini” (beliau tidak mengizinkan mengamalkan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah) dengan alasan tidak cocok dengan tarekat beliau serta bukan merupakan hasil ijma’ para ulama.
Beliau kemudian disuruh menetap di pondok Syekh Haji Mohammad Noer selama 40 (empat puluh) hari dengan harus mengikuti prilakunya dengan niat mujahadatan nafsi (memerangi hawa nafsu), sholat berjamaah dengan awal waktu, jangan sampai akhir takbiratul ihram-nya imam membaca.
       Selanjutnya beliau melaksanakan beberapa ritual ibadah seperti sholat sunnah seperti sholat daur (sholat ideran), mandi taubat nubati, berwudhu, mandi dan menyelam di kolam 11 kali dengan menahan nafas, sholat tahiyatul masjid, sholat taubat, sholat hajat, sholat istikharoh, dzikir, membaca surat-surat Al-Qur’an, do’a tawassul, dll.nya.
     Selama melakukan mulazamah di Kemuningsari Lor Kiai Shiratol Mustaqim diberi wewenang untuk mencatat ilmu ilham yang diberi nama Bait Dua Belas. Sehingga timbul keyakinan bahwa benarlah bahwa Romo Yai (Syekh Haji Mohammad Noer) adalah waliyullah dan ma’rifatnya adalah hakekat yang merupakan realita bukan mengada-ada dengan melihat sendiri kepada Allah Azza Wajalla.
Selain itu Kiai Abdul Hadi Shiratol Mustaqim juga mencatat riwayat Syekh Haji Mohammad Noer, dari keterangan teman-temannya sebelum beliau berada di Kemuningsari Lor yang kemudian diserahkan dan disetujui oleh RomoYai.
     Demikian sekilas riwayat KH. Abdul Hadi Shiratol Mustaqim, untuk lebih jelasnya bisa  dibaca dalam Kitab Fathul Arifina Billah, yang menerangkan tentang riwayat-riwayat, penjabaran Bait Dua Belas, dan aurod-aurod yang diwejang oleh Syekh Haji Mohammad Noer.
KH. Abdul Hadi Shiratol Mustaqim meninggal dunia tanggal 1 Juli 1970 pada usia 90 tahun di Curah Bamban, Tanggul.
Beliau adalah ulama besar yang kharismatis serta sulit dicari tara bandingannya apalagi pada masa sekarang. Mungkinkah pada saatnya nanti akan muncul kembali ulama besar sekaliber beliau berdua, mengingat sekarang banyak para ulama sudah kehilangan pamor dan sawab-nya karena jatuh pada gelimang duniawi ? Wallahu alam bissawab


Keterangan Foto  : Balong (kolam) peninggalan dari Syekh Haji Mohammad Noer.

Keterangan Foto  : Masjid pesantren peninggalan dari Syekh Haji Mohammad Noer yang sudah mengalami pemugaran.

SYEKH H. MOHAMMAD NOER : Kiai Musafir Pendulang Ilmu

Biografi Bagian - 2
Disusun oleh : Zainollah, S.Pd (Koordinator Forkom Bhattara Saptaprabhu)



      Pada tahun 1903 Syekh Mohammad Noer berangkat menunaikan Rukun Islam yang ke-5 ke Tanah Suci. Selama berada di tanah haram itu beliau berbaiat Tarekat Ghozaliyyah di Jabal Qubais, Mekkah sebagaimana kisah sebagai berikut :
   Ketika beliau berada di Masjidil Haram Mekkah, dengan niat taubat, bermunajatlah di bawah talang emas memohon ampun kepada Allah SWT, agar diampuni semua dosa-dosanya. Di antara waktu sahur dan sepertiga malam pada hari Kamis, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari talang emas tersebut. Wujudnya seperti kendi kencana yang langsung diterima dengan kedua tangan beliau, hingga kemudian kendi kencana itu pecah.
Selanjutnya pada malam Jum'at tiba-tiba ada seorang yang keluar dari makam Nabi Ibrahim AS yang kelihatan sangat putih, berbau harum semerbak, lelaki itu berjenggot putih itupun datang kepada beliau dengan memberikan sebilah pisau cukur yang sangat tajam.
   Sepulang dari Tanah Suci Syekh Haji Mohammad Noer akhirnya dikenal dan dipanggil dengan nama "Romo Yai Haji Mohammad Noer" (sebelumnya nama beliau adalah Kiai Abubakar). Aktivitas beliau kembali mengajar kitab kuning kepada para santrinya sebagaimana biasa. Selain itu diajarkan pula kesenian terbangan (seni hadrah) dengan lantunan sholawat yang amat terkenal di Desa Kemuningsari Lor dan desa-desa sekitarnya.
      Ada sebuah kisah yang terjadi pada tahun 1910 di mana group hadrah yang dipimpin beliau mendapat undangan ke Desa Badean. Beliau hadir bersama dengan rombongan terbangan dari Desa Kaliwining Kecamatan Rambipuji. Pada saat rombongan beliau datang, ada sikap arogansi dan terkesan meremehkan pada group terbangan beliau. Keanehan terjadi, pada saat tim terbangan dari Kaliwining itu tampil untuk beraksi, tidak terdengar bunyi atau suara sama sekali sampai akhir acara.
   Semenjak peristiwa itu beliau merasa bersalah dan berdosa karena masih memiliki hati yang tidak bersih, riya' dan jumawa. Untuk itu beliau berniat untuk melakukan taubat nasuha, guna membersihkan hati yang kotor. Kemudian beliau mengumpulkan semua anak, cucu dan para menantunya guna menyampaikan suatu wasiat penting dan mau melimpahkan tugas-tugas ke depan, sekalian berpamitan bahwa akan melaksanakan kholwah suluk mujahadah dalam rangka taubat nasuha itu.
Sebagaimana dikisahkan sebelumnya, sepulang dari pertemuan di Desa Badean dalam acara atraksi terbangan (hadrah), Syekh Mohammad Noer merasa dirinya mempunyai hati yang tidak bersih. Maka beliau berkeinginan untuk membersihkan hatinya dengan melakukan taubat nasuha dengan melaksanakan 'Kholwah Suluk Mujahadah.' 
Kholwah artinya menyendiri, sedangkan suluk berarti menempuh jalan (tarekat) dan mujahadah artinya bersungguh-sungguh. Maka artinya secara keseluruhan adalah "melakukan ibadah lahir bathin untuk menyingkirkan (mengosongkan) sifat madzmumah (sifat tercela) lahir batin menuju sifat mahmudah (sifat terpuji) lahir dan bathin pula.
      Agar keinginan kholwah suluk mujahadah itu dapat dengan segera dilaksanakan, maka pada tahun 1910 sesudah melaksanakan sholat Isya', Syekh Haji Mohammad Noer mengumpulkan semua keluarga dan menantunya untuk menyampaikan maksud dan keinginannya dan sekaligus mengatur pembagian tugas sehari-harinya selama beliau melaksanakan misi spiritualnya.
Karena anak laki-lakinya masih kecil, maka tugas-tugas itu dilimpahkan kepada anak-anak menantunya yaitu KH. Shiddiq diberi tugas mengatur dan mengajar para santri. Kiai Shoheh Abu Solehan diberi tugas untuk menerima tamu pada siang hari. KH. Abdul Hamid diberi wewenang untuk menerima tamu pada malam hari, Kiai Abdurrohim mendapat tugas menangani pertanian. Sedangkan Abdul Karim mendapat tugas mengatur kebutuhan rumah tangga keluarga, tamu dan para pekerja di sawah. Lalu Kiai Nawawi diberi tugas untuk membantu KH. Shiddiq mengatur dan mengajar para santri.
    Setelah niatan dari beliau disampaikan  secara jelas dan gamblang, maka kemudian menyerahkan sejumlah uang kepada Abdul Karim agar dimanfaatkan sebagai dana untuk persiapan membiayai kebutuhan belanja sehari-hari keluarga, para pekerja di sawah dan para tamu. Selain itu beliau juga menyerahkan uang untuk biaya naik haji 6 (enam) orang menantunya, apabila dalam tugasnya nanti sewaktu-waktu beliau dipanggil oleh Allah SWT. Namun apabila nanti ternyata beliau masih diberi kesempatan hidup, maka akan ikut membantu dan mengatasi urusan para menantunya.
Selanjutnya beliau berpamitan pada keluarga untuk melaksanakan kholwah suluk mujahadah selama 9 (sembilan) tahun yang dimulai pada tahun 1910 sampai dengan tahun 1919. Dalam melaksanakan "ritual" tersebut beliau berpegang pada dasar Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW serta Kitab Fiqih, Kitab Tasawwuf dengan pedoman Kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam Al-Ghozali, Kitab Al-Hikam karya Syekh Akhmad Ibnu 'Athaaillah dan Kitab Minhajjul 'Abidin karya Imam Al-Ghozali
      Kegiatan ibadah itu dilaksanakan di salah satu kamar rumah di dalam, hal itu berdasarkan pada kelampahan atau perjalanan yang pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW. Mengenai sholat sunnah dilaksanakan di suatu tempat saja di dalam rumah berbeda dengan sholat fardhu yang senantiasa tetap dilaksanakan di masjid pondok secara berjamaah pada awal waktu sholat.
Suluk pertama dilaksanakan selama 6 (enam) tahun yang disebut dengan nama suluk abraar. Selama melaksanakan suluk ini, beliau melaksanakan sholat sunnah, dzikir di dalam satu kamar rumah. Sedangkan sholat fardhu dilaksanakan beliau dilaksanakan di masjid dengan berjamaah di awal waktu.
     Dalam rangka melaksanakan kholwah suluk abraar, beliau telah membulatkan hatinya semata-mata karena iman kepada Allah dengan penuh keyakinan siang dan malam, melaksanakan taubat nasuha, meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniawian dan melasanakan pengabdian kepada Allah dengan menjauhi segala larangan-Nya.
Tahapan-tahapan untuk melaksanakan suluk mujahadah adalah tabarruk dengan melalui dua tahapan. Pertama selama 6 (enam) tahun yang disebut suluk abraar  yaitu suluk irodah dan hidayah. Kedua yang disebut dengan suluk muqarrobin.
     Suluk Pertama. Menurut penjelasan dari Kiai Abdul Hadi H. Shiratol Mustaqim dari Desa Curah Bamban Kecamatan Tanggul yang merupakan karib Syekh Haji Mohammad Noer, di dalam Kitab Fathul Arifina Billah, bahwa tarekat yang digunakan dan dilaksanakan beliau dalam Suluk Mujahadah itu adalah tabarruk yaitu mengambil dalam kitab fiqih dan tasawwuf.
Selama menjalankan kholwah 6 (enam) tahun itu beliau tidak pernah batal wudlu dan apabila hadats, beliau segera mengambil air wudlu dan hal ini selalu dilakukan secara terus menerus.
Beliau bermaksud melakukan taubah nasuha kepada Allah SWT, serta menghilangkan angan-angan dan pikiran tentang keduniawian dan hanya beribadah semata-mata karena Allah dengan menjauhi semua larangan-Nya. Selama kholwah beliau melakukan beberapa hal di antaranya sedikit bicara dan berbicara seperlunya atau yang fardhu. Makan sedikit yaitu sehari semalam hanya satu 'lepek' (piring kecil) nasi dan minum satu sendok. Sedikit tidur hanya sebentar dalam sehari semalam hanya satu jam, menyendiri dalam satu kamar tanpa ada siapapun. 
      Adapun amalan yang dilaksanakan dalam yang menjalankan kholwah ma’al uzlah yaitu dengan membaca istighfar untuk memohon ampun kepada Allah, membaca sholawat kepada Nabi SAW, membaca naïf isbat atau tahlil  meng-Esakan Allah Robbul ‘ Alamin dan menyebut asma Allah SWT.
     Semenjak masih kanak-kanak beliau sudah terbiasa mengamalkan dzikir ismudzat secara istiqomah dan dalam suluk ini dzikir beliau tidak menggunakan ‘ilmu lathoif karena ittiba’ Rasulullah SAW.
Syekh Haji Mohammad Noer menyatakan bahwa uqbah yang pertama merupakan syarat sahnya suatu suluk dan tarekat apapun yang tidak dapat memenuhi syarat dasar tersebut tidak akan diterima oleh Allah SWT, misalnya dalam melaksanakan suluk hanya ingin dibuka pintu ma’rifat (mukasyafah), jelas tidak akan diterima karena suluk yang dilakukan itu bukan karena Allah.
    Selanjutnya beliau mengatakan apabila uqbah awal telah dilaksanakan dengan benar, kemudian ditambah dengan uqbah yang kedua selama 40 hari, maka Insya Allah terlihatlah dunia dengan segala isinya, tumbuhan, dedaunan, tanah, pasir, batu, kerikil dan hewan. Semua bisa dimengerti bunyi isyarat bahasanya dan kemauannya. Pada tahap ini orang kebanyakan sudah tertipu dan berhenti melaksanakan suluk, karena merasa sudah berada di puncak.
Kemudian membuka rahasia-rahasia apa yang telah diketahuinya kepada orang lain, padahal yang demikian itu berarti tidak mengindahkan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah Kitab Syekh Abu Hamid Al-Ghozali yaitu “Membongkar kerahasiaan Allah adalah kafir”.
  Dalam suluk abraar ini Syekh Haji Mohammad Noer mengerjakan sholat sunnah dalam sehari semalam sebanyak 1000 (seribu) raka’at dan dzikir sebanyak 70.000 (tujuh puluh ribu) kali. Setelah mencapai 9 (sembilan) bulan kulit dahi beliau menebal (jawa ; kapalan) dan menghitam. Akibatnya beliau khawatir menimbulkan sifat riya’ (sombong). Maka sholat sunnahnya dikurangi menjadi 300 raka’at dalam sehari semalam, namun dzikir ditambah menjadi 90.000 (sembilan puluh ribu) kali.
      Setelah genap 6 (enam) tahun, menjelang sholat Syekh Haji Mohammad Noer kedatangan 2 (dua) orang tamu dari arah barat daya yang berpakaian jubah serba putih mengaku bernama Haji Abdullah yang berbadan tinggi besar dan Haji Abdurrahman yang berbadan pendek dan kecil.
Kedua tamu tersebut masuk ke dalam kamar kholwah, namun kehadiran kedua tamu tersebut tidak ada seorangpun yang tahu kecuali beliau sendiri. Beliau mengatakan kepada sebagian santri bahwa orang yang dating itu seperti Nabi Khidir AS dan Nabi Ilyas AS.
Dalam melaksanakan suluk mujahadah selama 6 (enam) tahun ini terbukalah kalam nafsi yaitu tampaklah dunia beserta isinya.
Suluk Kedua. Suluk kedua ini dilaksanakan selama 3 (tiga) tahun yang dinamakan dengan suluk muqarrobin. Selanjutnya Syekh Haji Mohammad Noer mengatakan kepada anak cucu dan menantunya, “apa salahnya jika aku meneruskan mujahadah”.
Kemudian beliau meneruskan dan meningkatkan dari uqbah yang kedua, ketiga dan keempat yaitu banyak diam tidak banyak berbicara, tetap berada dalam kamar rumah tidak bebergian, rela meningggalkan makan artinya tidak makidak makan dan minum, menjalankan suluk mujahadah tidak membatasi waktu bahkan sampai mati.
    Dalam melaksanakan suluk mujahadah tahap kedua, yang dilaksanakan selama 3 (tiga) tahun itu, Syekh Haji Muhammad Noer juga berpedoman kepada Kitab Minhajjul Abidin, di mana harus mampu melaksanakan mati abang dengan menghindari hawa nafsu atau tidak melayani kehendak hawa nafsu, mati putih yaitu mampu menahan lapar dengan memilih makanan halal, mati ijo dengan menghilangkan sifat ujub, riya’, sum’ah, takabbur serta menghilangkan sifat cinta dunia, pangkat dan harta. Kemudian mati ireng tidak marah dengan mengeluarkan cacian dan tidak bangga dengan pujian.
Dalam suluk muqarrobin dzikir yang dilaksanakan sehari semalam sebanyak 70.000 (tujuh puluh ribu) kali dan sholat sunnahnya sebanyak 300 (tiga ratus) rakaat.
     Ketika mencapai 3 (tiga)  tahun kurang 7 (tujuh) hari dzikir ditingkatkan dalam sehari semalam menjadi 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) kali. Setelah 7 (tujuh) hari kemudian genaplah sudah 9 (sembilan) tahun tahun pelaksanaan suluk mujahadah. Hari itu  tepatnya Jum’at tanggal 26 Maulid tahun 1340 Hijriah atau tahun 1919 Masehi pada jam 14.00 WIB, Syekh Haji Mohammad Noer terlihat seperti orang yang sudah wafat. Namun setelah diteliti denyut nadinya oleh Kiai Shoheh Abu Solehan (menantunya) ternyata pada kaki beliau masih ada getaran denyut nadinya.
Dua tahun telah berlalu, sejak terbukanya pintu mukasyafah, alkisah datanglah seorang tamu yang aneh tingkah lakunya dan tidak seperti orang biasanya. Sesampai di halaman rumah tamu itu bertanya kepada Kiai Shoheh Abu Solehan yang ketika itu berjaga di situ.
     “Gus, apakah bisa kami menjumpai Romo Kiai ?” Tanya tamu tersebut.
     “Bisa saja”, jawab Kiai Shoheh.
   Ketika tamu tersebut akan masuk ke rumah, Ia memanggil-manggil Kiai Shoheh Abu Solehan sambil menunjuk ke atas dan berkata ;
     “Gus, ini koq ada kelapa yang sama-sama tumbuh di janjangannya (tangkainya)” kata tamu tersebut.
   Lalu Kiai Shoheh melihat apa yang dikatakan tamunya, ternyata memang betul kelapa satu janjang itu tumbuh sangat lebat di atas. Padahal kemarinnya tidak ada sama sekali.
     “Gus, ambilkan saya satu buah saja untuk jimat !”
     “Iya, Tuan !” jawab Kiai Shoheh Abu Solehan
     Kemudian Kiai Shoheh menyempatkan bertanya kepada tamunya.
     “Sampean berasal darimana ?”
     “Saya Kanjeng Adipati Bangil” katanya dengan tegas.
  “Tumbuhnya kelapa ini merupakan tanda-tanda karomahnya Romo Kiai Syekh Haji Mohammad Noer, dan saya wajib mengikutinya” kata Adipati Bangil itu katanya lagi dengan meyakinkan.
   Sebenarnya Kiai Shoheh Abu Sholehan sudah sangat faham kalau mertuanya itu sesungguhnya sudah sampai pada derajat auliya’ illah, namun beliau belum berani menyebut dan mengatakan sebagai wali quthub.
   Dua tahun telah berlalu mulailah beliau kembali mengajar para santrinya lagi, yang dilaksanakan setelah sholat shubuh. Kitab-kitab yang diajarkan antara lain Kitab Ihya’ Ulumiddin, Kitab Fathul Uluhiyyah, Kitab Insan Kamil, Kitab Jami’u Ushulil Auliya’, Kitab Tafsir dan Kitab Al-Hikam. Namun cara mengajarnya kini sudah berbeda dari sebelum mujahadah dibuka. Murodnya (penjelasan) sudah disampaikan terlebih dahulu dan setelah dibuka kitabnya sangat cocok dengan apa yang telah disampaikan itu. Dan tatkala kitabnya dibuka hanya lafalnya saja dengan mengatakan ;
       “Ulama utara, ulama barat, ulama timur, ulama selatan, ulama atas, ulama bawah dunia akhirat semua datanglah ke sini. Semua saya ajari tentang ma’rifat, kalau sudah bisa  cobalah berkata seperti saya” katanya.
Beliau tidak pernah mengatakan atau mengakui dengan langsung bahwa dirinya adalah seorang auliya’ tapi hanya mengatakan kepada Kiai Shoheh Abu Solehan sebagai menantunya. Syekh Haji Mohammad Noer pernah mengatakan begini ;
    “Anak menantuku, bagaimana orang ma’rifat kepada Allah itu ?” maka jawab Kiai Shoheh Abu Solehan.
      "Orang ma'rifat kepada Allah itu seperti saya melihat matahari, sedangkan besarnya matahari 160 kali besar bumi yang seperti berada dalam mata saya". Begitu juga orang yang ma'rifat kepada Allah, mata hatinya sudah muat dan mampu untuk melihat Dzat Allah". Katanya dengan mantap.
Kiai Shoheh Abu Solehan disebut-sebut sebagai sahabat nomor satu dari beliau, keluasan ilmunya juga dapat dipandang hampir sepadan dengan beliau.
Selanjutnya dikatakan oleh beliau, "sebelum saya terbuka tentang  ma'rifat  kepada Allah, tiap-tiap benda yang samar akan tampak kelihatan dan mengaku sendiri namanya seperti waktu sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya', Subuh dan seterusnya".
Selanjutnya dikatakan bahwa emas, intan berlian yang bertaburan tetap tidak saya toleh atau tidak peduli karena kalau dilihat maka akan batal (gugurIah) mujahadah yang saya jalani. Semua itu merupakan godaaan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Bersambung.


   
  
  

SYEKH H. MOHAMMAD NOER - Wali Quthub Dengan Karomah Bait Dua Belas

( Biografi Bagian - 1 )

Oleh  :  Zainollah, S.Pd (Koordinator Forkom Bhattara Saptaprabhu)




        Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin atau Pesantren Syekh Haji Mohammad Noer yang berlokasi di lereng Gunung Argopuro, tepatnya Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti Kabupaten Jember adalah salah satu pesantren tua yang ada di kota tembakau. Bangunan pesantren itu masih tampak asri dengan halaman cukup luas dan bersebelahan dengan kolam ikan milik pondok. Meski bangunan ini sederhana dan tidak tersentuh oleh bangunan pondok modern pada umumnya, namun kesan sebagai pesantren salaf yang cukup terkenal dan mempunyai kharisma besar sangatlah kental.

    Pesantren ini didirikan oleh Romo Yai    (sebutan Syekh Haji Mohammad Noer) pada masa penjajahan Belanda. Meskipun  beliau tidak mengangkat senjata secara langsung  melawan penjajah, namun Romo Yai melakukan jihad fi sabilillah menegakkan agama Allah dengan cara  berdakwah dan memerangi kebathilan (amar ma’ruf nahi munkar). Beliau juga memberikan gemblengan mental-spiritual kepada setiap pejuang yang maju dalam menghadapi penjajah.

Pesantren dengan 'nomenklatur' Nahdlatul Arifin' tersebut  masih mempertahankan kemurnian sebagai pesantren tradisional yang berhaluan moderat dan tidak ekslusif, tentunya dengan berpedoman faham pada mahzab Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana pesantren pada umumnya.

   Sekarang pesantren diasuh oleh Kiai Arjuni Sanwani yang merupakan cucu dari Syekh Haji Mohammad Noer. Sebagaimana pendahulunya, Kiai Arjuni Sanwani adalah ulama berwawasan luas, sederhana dan rendah hati serta humoris. Kalau kita bertamu ke rumahnya maka  bisa betah berlama-lama karena beliau sangat gayeng, penuh kekeluargaan dan punya selera humor tinggi. 
   Dalam kesehariannya beliau sering tampil tanpa jubah dan sorban sebagaimana lazimnya ulama, beliau lebih sering memakai baju batik, koko dipadukan dengan sarung atau celana. Pada kesehariannya masih tetap menggunakan motor lama jika mengantar istrinya belanja ke pasar atau bepergian. Sebelum mengajar santrinya selepas dhuhur beliau masih rajin ke kebun dan sawahnya dengan menggarap dan  mengerjakan sendiri.

    Di tengah langkanya mencari sosok ulama dan kiai kharismatis yang menjauhi gelimang duniawi dan tidak tergoda rayuan politik serta tetap berpola hidup sederhana. Maka Kiai Arjuni Sanwani adalah sosok yang mewakili segelintir ulama panutan umat. Beliau tidak silau dengan nafsu syahwat politik yang mengajak pada salah kekuatan atau menjadi partisan suatu partai atau tokoh tertentu. Beliau tidak tergoda untuk memliki mobil sebagaimana kebanyakan kiai atau ulama yang bergaya borjuis, the haves dengan pondok mewah dan modern serta kemegahan dan hedonistis lainnya. Atau dengan sering mengundang para tokoh pejabat datang agar pondoknya dapat bantuan. Pernah beberapa kali beliau ditawari iming-iming bantuan dana miliaran rupiah dengan syarat Kiai menjadi partisan dan mendukung tokoh tersebut dalam pemilihan presiden. Namun dengan halus dan santun beliau menolaknya. Beliau tetap konsisten dan istqomah dalam menjaga kenetralan, kemandirian pesantrennya sebagaimana founding father yang dengan susah payah mendirikan dahulu. 
Itulah figur dan profil singkat pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin yang menjadi tempat berkumpul ribuan massa untuk memperingati karomah ulama wali quthub Syekh Haji Mohammad Noer setiap tanggal 26 Maulid Nabi Muhammad SAW.

  Allah menurunkan para nabi dan rasul, anbiya, auliyah serta para wali dengan memberi petunjuk perjalanan ma'rifat kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Di mana kita sebagai orang awam tidak tahu tanda-tanda bahwa seseorang itu adalah anbiya atau waliyullah. Yang tahu bahwa seseorang itu ulama, anbiya atau waliyullah adalah  orang-orang dari golongan mereka sendiri.
    Di tengah masyarakat kita yang mempunyai budaya mengagungkan para pemimpin atau tokoh (primus interperes) banyak dikenal kisah atau cerita orang-orang tempo doeloe yang mempunyai kemampuan lebih (the six tense) atau daya linuwih, waskita, sidik paningal dan weruh sadurungi winarah (tahu sebelum terjadi) bahkan juga dukdeng (sakti madraguna) serta memiliki olah kanuragan. Kelebihan itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, baik yang menganut pada jalan Allah (aliran putih) atau syetan (aliran hitam). Tentunya untuk mencapai semua itu tidaklah mudah karena kelebihan tersebut diperoleh lewat laku tirakat, tapa brata atau ibadah khusus dan mujahadah  kepada Yang Maha Kuasa. 
   Semenjak agama Islam sebagai agama mulia  dengan peradabannya masuk ke tanah Jawa yang kemudian dikembangkan oleh  para wali, di mana mereka mampu menunjukkan jati dirinya sebagai sosok yang sangat kharismatik dan dianggap keramat (karomah) dengan memiliki keistimewaan bahkan kesaktian. Para wali dihadapkan pada situasi yang mau tidak mau harus menunjukkan 'kelebihannya' di hadapan orang-orang yang tersesat ke jalan gelap. Atau melawan arogansi orang-orang yang menentang dan menghalangi syiar para wali. Selain Walisanga di Jawa juga dikenal beberapa wali lain yang memiliki kehebatan seperti Sunan Ngudung, Syekh Siti Jenar, Sunan Tembayat, Sunan Panggung (yang dikenal dengan Suluk Malang Sumirang), Sunan Geseng, Syekh Subakir (Kakek Bantal), Syekh Jumadil Kubro dan lainnya.
Begitu juga di luar Jawa dikenal nama-nama para tokoh ulama seperti Dato'ri Bandang di Sumatera dan Sulawesi, Tua Tanggang Parang di Kutai dan Syekh Yusuf Tajul Khalwati di Makassar. Beberapa ulama habaib yang berasal dari Hadramaut dan beberapa negara Timur Tengah juga banyak menyebar di Nusantara sebagai pioner syiar agama Islam.
     Penyebaran Islam di Jawa bagian timur banyak dilakukan para wali seperti Sunan Giri, Sunan Ampel dan Syekh Maulana Ishaq. Begitu juga untuk wilayah tapal kuda (Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi) yang kala itu masih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Buddha peninggalan Majapahit. Hingga pada abad ke 17 pengaruh Hindu-Buddha dan animisme mulai terkikis, diganti dengan hegemoni Demak dan Mataram yany masuk di kawasan belantara perkebunan ini. Dalam hal penyebaran agama Islam selanjutnya peranan keturunan para ulama dan walilah yang memegang kendali di ujung timur Pulau Jawa.
Para tokoh tersebut tidak serta merta muncul secara otomotis, karena harus melalui proses 'pendadaran' keilmuan dan kelebihan untuk menghadapi ujian dan tantangan yang berat. Meraka harus tampil dengan keunggulan dan keistimewaan di tengah masyarakat jumud dan awam yang kala itu masih berlaku hukum rimba. Kelebihan spritual dan supranatural dan kanuragan mereka adalah jawaban  untuk menghadapi semua itu. .
     Di wilayah  Jember yang masyarakatnya merupakan campuran pendatang dari etnis Jawa dan Madura (pendhalungan) dengan ciri khas berkarakter keras, lugas namun agamis serta sangat fanatik pada sosok kiai dan ulama. Figur para ulama dianggap sebagai pengejawantahan dari wali yang memiliki supremasi dan mampu menyelasaikan persoalan umat utamanya terkait dengan moralitas.
      Pada masa lalu setelah era pemerintahan Kerajaan Demak dan Mataram berakhir,  dengan munculnya beberapa pemberontakan terhadap VOC, peranan ulama dan kiai di wilayah tapal kuda sangat dominan. Banyak di antara para ulama menjadi tokoh sentral pemberontakan atau menjadi penasehat spiritual atau ahli strategi para pemimpin pemberontak. Mereka membangkitkan semangat perang sabil (jihad fi sabilillah), seperti dalam Perang Diponegoro (1825 - 1830), Pemberontakan Trunojoyo (1674 - 1680), Perlawanan Untung Suropati (1685 - 1706) serta Puputan Bayu (berakhir 11 Oktober 1773). Beberapa perlawanan lokal di tapal kuda bahkan dipercikkan oleh keturunan para pejuang terdahulu serta para ulama yang juga keturunan para wali.
Para tokoh ulama yang terlahir pada jamannya telah mampu memberikan tauladan utama pada rakyat  dengan cara kehidupan yang sufi, zuhud dan tidak mengejar gelimang duniawi. Sehingga mereka menjadi panutan masyarakat karena dianggap pewaris nabi (warasatul anbiya). Selain itu mereka sangat dihormati dan disegani karena mempunyai keistimewaan dan ilmu hilkmat yang sama atau setingkat  dengan karomah para wali. 
Beberapa tokoh yang dianggap punya kelebihan  spiritual oleh masyarakat di Jember pada masa pra dan pasca kemerdekaan adalah Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid, KH. Hafidz dan Syekh Haji Mohammad Noer serta beberapa ulama lainnya.
   Syekh Mohammad Noer adalah salah seorang tokoh yang tidak pernah kering untuk selalu dikenang dan dibicarakan, meskipun tidak banyak diulas dalam literatur maupun pemberitaan. Tetapi masyarakat luas di Jember sampai luar daerah (Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, dll) maupun lingkup nasional serta sebagian komunitas masyarakat di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei cukup mengenal sosok ini. Untuk mengenang kebesaran dan sejarah perjuangannya, peringatan khoul karomah beliau diperingati tiap tanggal 26 Bulan Maulud yang selalu dihadiri masyarakat, santri, ulama, tokoh dan para pejabat yang meluber sampai radius kiloan meter dari area yang berada di Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti Kabupaten Jember.
Ia adalah seorang ulama berwawasan luas, zuhud, wira'i dan mendapat gelar Waliyullah Quthubul Ghouts, karena pada beliau diberikan kemampuan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan Kholwah Suluk Mujahadah selama 9 tahun yang terdiri atas dua tahap.
    Ulama dan wali quthub ini bernama Syekh Haji Mohammad Noer, terlahir pada tahun 1808 dengan nama kecil Abubakar, dari Desa Patalagan Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat yang berbatasan dengan Cirebon.
Kala Syekh Mohammad Noer lahir, saat itu bangsa Indonesia sedang menderita akibat penjajahan bangsa Belanda di bawah Gubernur Jenderal Mr. Herman Williem Daendels yang memerintah antara tahun 1808 - 1811.
Penderitaan rakyat khususnya di Pulau Jawa akibat kebijakan yang diterapkan Daendels berupa kerja rodi dengan pembuatan jalan antara Anyer di ujung barat (Propinsi Banten) sampai di Panarukan di Situbondo (Propinsi Jawa Timur) memakan banyak korban. Selain kerja paksa pembuatan jalan kereta api, gudang senjata (arsenal) dan benteng pertahanan serta pelabuhan telah menimbulkan kebencian rakyat pada Belanda. Tangan besi Daendels dan jatuhnya korban-korban pribumi yang tidak bersalah menyebabkan tangan kanan Napoleon Bonaparte itu mendapat julukan Tuan Besar Guntur dan Raden Mas Galak.
     Memang tidak ada sebab atau causa antara penjajahan Belanda dengan kelahiran Syekh Haji Mohammad Noer, tapi kelahiran orang-orang besar dan istimewa ditamdai dengan munculnya ontran-ontran atau peristiwa besar. Termasuk pada masa kekuasaan Daendels yang kejam. Kemunculan seorang wali quthub yang disebutkan dalam kajian kitab salaf adalah selama periode 100 tahun. Biasanya timbul  tanda-tanda zaman yang penuh dengan masa ketidakpastian, paceklik atau penderitaan. Karena kita sesungguhnya tidak pernah tahu rahasia Allah terhadap alam semesta yang berada digenggaman-Nya.
     Mohammad Noer mempunyai 3 orang saudara yaitu Nawawi (Mbah M.Moer), Nyai Si'ah dan Nyai Syarifah. Pendidikan formal beliau dilalui di Sekolah Rakyat VIS (sekolah pribumi masa kolonial) dan pada itu sudah yatim karena ditinggal ayahnya. Selain pendidikan formal Mohammad Ya'kub selaku ayahnya telah membimbing dan mendidik dengan ilmu-ilmu keagamaan. Selepas pulang sekolah beliau mengirim putera-puterinya kepada Kiai Imampuro, seorang ulama yang sangat dihormati dan disegani di Desa Patalagan.
  Sejak kecil Mochammad Noer sudah menunjukkan talenta dan kecerdasan yang luar biasa di atas rata-rata teman-temannya dan membuat kagum gurunya. Beliau lulus pada kelas III, namun tidak lagi melanjutkan di pendidikan formal.
     Semenjak ayahnya meninggal pada tahun 1829 peran pendidikan diambil ibunya yaitu Nyai Biang Zainal dengan mengirim beliau ke beberapa pesantren seperti Pondok Pesantren Balerante di Desa Balerante Palimanan Cirebon yang diasuh oleh Kiai Damsuki, yang dikenal sebagai pengamal Tarekat Sattariyah.
Pada tahun 1832 beliau melanjutkan lagi pendidikan ilmu agamanya di Pesantren Tegal Gubuk di Desa Tegal Gubuk Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon yaitu pada Kiai Abdullah seorang ulama penganut Tarekat Naqsyabandiyah yang dikenal dengan ilmu kanuragannya. Selanjutnya beliau pindah lagi pada tahun 1835 ke Pesantren Randubawa Desa Cikadane Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon yang diasuh oleh Kiai Jauhari yang dikenal sebagai kiai yang alim dalam bidang nahwu sharaf.
    Semenjak Mohammad Noer mengenyam pendidikan agama di Pesantren Balerante, beliau kemudian ingin hijrah ke Jawa Timur yang merupakan pusat pesantren dan ulama kesohor di tanah Jawa.
Pada tahun 1838 beliau mengadakan long march dari Cirebon ke ujung timur Pulau Jawa dengan modal semangat dan berbekal barang perniagaan berupa kericikan dan palen (Jawa).
Perjalanan panjangnya melewati kota-kota di sekitar pantai utara yang pernah disinggahi para wali seperti Kudus, Demak, Semarang terus ke selatan yaitu Yogjakarta lewat Gunung Wates, kemudian ke Solo lalu ke Kediri, Malang, ke Jusremo Wonokromo dan Pasuruan. Perjalanan panjang serta melelahkan karena harus menembus lebat dan ganasnya hutan yang penuh binatang buas. Namun dapat dilalui tanpa rasa takut maupun gentar.
     Dalam sebuah hikayat, konon Mohammad Noer yang kala itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat fisik dan mentalnya, saat masuk hutan dihadang oleh segerombolan perampok yang meminta paksa barang dagangannya. Mengahadapi ulah para perampok, pemuda itu tidak merasa ciut nyalinya. Dengan penuh rasa percaya diri Ia mengambil tiga biji batu kerikil dan kemudian dilemparkan pada para begundal itu. Akibatnya sungguh luar biasa, para perampok jatuh berhumbalangan dan kemudian tertidur pulas seperti terkena aji sirep.
Selanjutnya pemuda itu mengambil jarum dan benang serta menindik telinganya dengan benda itu serta merangkaikan antara yang satu dengan lainnya. Selain itu wajah para penyamun itu diolesi air tubang (air kunyahan nginang - jaman dulu para lelaki banyak makan sirih dan pinang sebagai tradisi lama dan berfungsi sebagai pengganti rokok). Usai melaksanakan ulah isengnya, pemuda ahli kanuragan itu berlalu dan setelah agak jauh melemparkan sisa batu kerikilnya kepada para perampok. Akibatnya mendadak sontak mereka terbangun dan kesakitan, serta kebingungan bahkan merasa aneh melihat wajahnya yang coreng moreng.
      Pada tahun 1852 Mohammad Noer sampai di Kediri dan belajar ilmu agama pada Kiai Langkir di daerah Tulungagung. Tahun 1855 berguru mengaji pada Mbah Yugo di Kesamben Blitar, dilanjutkan di Pesantren Keling yang diasuh Kiai Nawawi yang terkenal dengan Pesantren Wringin Agung, Pare Kediri selama 3 tahun. Kemudian pada tahun 1861 beliau pindah lagi berguru pada Kiai Waliyul Asghor di Pesantren Al-Badar Sidoresmo, Desa Mojosarmo Wonokromo Surabaya.
  Setelah 3 tahun menjadi santri di Wonokromo, beliau pindah lagi ke pesantren yang diasuh Kiai Abdullah Faqih Kadipaten Kebon Agung Pasuruan yang berasal dari Cianjur Jawa Barat. Di tempat ini beliau cukup lama menimba ilmu yang gurunya dikenal sebagai pengamal tarekat sehingga beliau dijuluki Ahli Thariqah. Berkat kepiawaian dan ketekunan serta kejujurannya Ia dipercaya menjadi mandor kopi milik Kiai Abdullah Faqih yang berada di daerah Malang. Di tempat yang baru itu banyak yang datang untuk berobat, sehingga Ia mendapat predikat sebagai dukun.
   Selama bekerja sebagai mandor, gajinya tidak pernah diambil. Bila dirupiahkan, setiap bulan nilai gajinya setara dengan 25 (dua puluh lima rupiah). Ketika ada rencana untuk melanjutkan perjalanan menuntut ilmu, barulah gajinya diambil sekaligus. Gaji selama 4 (empat) tahun itu sebesar Rp. 1200 (seribu dua ratus rupiah) yang akan dipergunakan sebagai modal untuk berdagang barang kericikan.
Begitulah pemuda itu sangat tekun menuntut ilmu sambil berdagang dan mempunyai keinginan besar untuk keliling Jawa dan perjalanannya akan dimulai dari Pasuruan.
     Setelah cukup lama menuntut ilmu yaitu sekitar 4 (empat) tahun dengan mengabdi pada KH. Abdullah Faqih, pada tahun 1868 Ia berencana melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Atas izin dan restu dari gurunya, perjalanan dilanjutkan ke timur dengan jalan kaki melalui daerah Probolinggo, Klakah, Sumberbaru, Tanggul. Kemudian sampailah di Desa Petung Kecamatan Bangsalsari (Jember). Di desa ini pemuda itu singgah dan bermalam di rumah Kiai Dul seorang tokoh yang juga berasal dari Cirebon.
Semalam berada di rumah Kiai Dul, pada pagi harinya pemuda itu meneruskan perjalanan ke arah utara menuju rumah Pak Sampir seorang yang berasal dari Banten dan bertempat tinggal di Gebang Langkap. Kiai Dul kemudian juga mengenalkan pemuda itu pada seseorang yang bernama Hasan Muhyi yang menjabat Kepala Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti yang juga berasal dari suatu daerah di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.
   Hasan Muhyi sekeluarga menyambut kedatangannya dengan senang hati, sekalipun pada saat itu Ia dan keluarganya menghadapi masalah yang sangat pelik. Masalah yang dihadapi petinggi desa itu adalah karena sering didatangi oleh Tuan Besar perkebunan pabrik (Sinder) di Widodaren. Tuan Besar itu ingin sekali memperistri puteri angkatnya yang bernama Kasmirah. Maklumlah selain Sinder itu beragama lain, Pak Hasan Muhyi khawatir nanti puterinya dijadikan gundik belaka.
Kepada pemuda pengelana itu Hasan Muhyi menceritakan masalah yang dihadapinya. Mendengar persoalan yang begitu berat dirasakan keluarga Hasan Muhyi, besok siangnya pemuda itu segera bergegas setelah minta izin Ia menuju lokasi perkebunan di Widodaren yang terletak di sebelah utara Kemuningsari Lor (sekarang masuk wilayah Desa Badean).Pemuda itu memang berniat menolong Pak Hasan Muhyi dan melepaskan beban berat yang dialami oleh tuan rumahnya. Kebetulan pada saat itu adalah hari Sabtu saatnya pembayaran gaji karyawan perkebunan Widodaren. Sampai di sekitar halaman kantor perkebunan, Ia membuka dasaran dagangannya yang berupa kricikan atau palen. Ternyata sepanjang hari itu dagangannya laris sekali. Sampai waktu beranjak senja menjelang maghrib, masih saja banyak pembeli berebut dan belum sempat kebagian.
Waktu menjelang malam, beliaupun diajak seorang mandor kebun untuk singgah dan bermalam. Esok paginya pemuda itu menggelar dagangannya kembali dan masih saja banyak pembeli yang berdatangan menyerbu dagangannya.
      Pada waktu istirahat di rumah mandor kebun, Ia mengambil 3 (tiga) buah batu lalu ditumpuk dan diambilnya pula sebatang tusuk (sujen) yang terbuat dari bambu. Kemudian batu-batu tersebut ditusuknya dengan sujen seolah-olah seperti menusuk sate. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu merasa heran dan takjub. Kiranya hal itu sengaja dilakukannya untuk menarik perhatian Sinder Perkebunan yang menguasai Kebun Widodaren itu.
      Berita tentang keunikan dan keanehan yang dilakukan pemuda pengembara itu menyebar luas di kalangan masyarakat perkebunan, sehingga anak muda dikenal memiliki ilmu tinggi dan sangat sakti. Keberadaan seorang pedagang baru yang eksentrik, baik dalam hal ucapan maupun cara menawarkan dagangannya itu telah mengundang perhatian masyarakat luas termasuk para pegawai yang ada di perkebunan tersebut.
Bahkan Sinder perkebunan itu menyempatkan diri untuk bertanya kepada pemuda itu.
" Saudara berasal dari mana ? " tanya Tuan Sinder pada pemuda itu dengan tatapan tajam.
" Saya berasal dari Cirebon" jawab pemuda itu dengan tenang.
" Di sini tinggal di mana ?" tanya Tuan Sinder itu penasaran.
" Saya tinggal di rumah Kepala Desa Kemuningsari Lor ", jawabnya dengan enteng meyakinkan.
" Apakah ada hubungan antara sampean dengannya ?" tanya Sinder tambah penasaran.
" Saya adalah calon suami Kasmirah, puterinya " jawab pemuda itu dengan percaya diri.
    Mendengar jawaban tegas itu Tuan Sinder itu kemudian memalingkan muka dengan wajah merah padam. Perasaan marah, malu bercampur cemburu memaksanya untuk meninggalkan tempat itu kemudian masuk ke dalam kantornya.
Setelah itu Ia (Mohammmad Noer) memberesi barang dagangannya dan kembali ke rumah Hasan Muhyi serta bermalam di rumahnya.
     Malam harinya saat bercengkerama, pemuda itu menyampaikan kepada Pak Hasan Muhyi, bahwa Tuan Sinder Insya Allah tidak akan kembali lagi ke sini.
Mendengar apa yang disampaikan pemuda asing itu Hasan Muhyi sekeluarga menjadi tenang dan tidak khawatir lagi. Ternyata kemudian benarlah apa yang dikatakan pemuda itu bahwa Sinder itu tidak pernah muncul lagi ke rumahnya. 
     Setelah bermalam dan istirahat di rumah petinggi desa itu, pagi harinya pemuda baik hati itu berpamitan untuk meneruskan perjalanannya ke arah timur yaitu ke Desa Panti (sekarang Kecamatan Panti Kabupaten Jember).
Di Desa Panti Ia singgah di rumah Pak Sartum yang juga berasal dari Banten Jawa Barat. Di rumah Pak Sartum inilah pemuda itu mengabdi dan mengerjakan apa saja yang ditugaskan kepadanya. Bahkan pernah diberi tugas bekerja di gudang tembakau di desa tersebut.
     Pada saat tinggal di rumah orang Banten itu Ia mengalami peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ketika Ia mengikuti Sholat Ied (Hari Raya), kitab khotbahnya selalu terbaca berulang-ulang oleh khotib yang membaca khotbah. Sehingga tidak pernah berkesudahan sampai kemudian digantikan oleh khotib lain. Namun yang terjadi tetap mengalami hal yang sama dengan khotib sebelumnya.
Kemudian ada di antara jama'ah yang mengusulkan agar khotib itu diganti dengan orang yang bekerja di rumah Pak Sartum. Nampaknya jama'ah yang mengusulkan itu mengerti dan faham jika pemuda itu orang yang alim dan berilmu tinggi. 
Ternyata benarlah kemudian, pemuda asing dengan fasih dan lancar membaca khotbah Sholat Ied yang membuat hadirin merasa terpana.
     Setelah kejadian itu masyarakat Panti mengetahui bahwa orang yang bekerja di rumah Pak Sartum itu sebenarnya orang yang alim dan punya kelebihan. Selanjutnya pemuda berilmu itu pamit untuk melanjutkan pengembaraannya. Kali ini perjalanan dengan jalan kaki menuju ke arah timur melalui Kalibaru dan sampai di Pesantren Kedayunan Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa.
   Kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah utara lewat daerah Bajulmati (Banyuwangi) sampai ke wilayah Situbondo, Panarukan dan Probolinggo. Selanjutnya menuju ke barat menyusuri pantai utara hingga sampai di desa Gempeng Pacangan, Bangil Kabupaten Pasuruan. Di tempat itu Ia tabarukan dengan Kiai Imam Subaweh, Kiai Imampuro dan Kiai Surgi. Selama di Gempeng Pacangan Ia berkenalan dengan Adipati Bangil.
    Selesai tabarukan kepada para kiai di Pacangan, pemuda itu kemudian pamit untuk meneruskan perjalanan ke arah barat lewat Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, Semarang, Ambarawa, Purbalingga, Purwokerto, Kuningan, Majalengka, Sumedang,Ciamis dan singgah di Desa Patalagan untuk menjenguk keluarga (orang tua dan saudaranya).
Usai istirahat beberapa saat di Patalagan, kembali diteruskannya perjalanan ke arah timur lagi lewat Cilacap, Kebumen, Kroya, Wates, Jogjakarta, Gunung Kidul, Tremas, Ponorogo, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Klakah, Jatiroto, Sumberbaru, Tanggul, Bangsalsari, dan Rambipuji. Akhirnya Ia sampai juga ke Desa Kemuningsari Lor Panti di rumah Pak Hasan Muhyi.
     Perjalanan panjang (long march) yang dimulai dari Pesantren Kebonagung Pasuruan mengelilingi Pulau Jawa dengan jalan kaki sembari berdagang kericikan/palen itu ditempuhnya selama 2 (dua) tahun. Selama dalam perjalanan Ia ditempatkan untuk ngalap tabarukan (menimba ilmu) kepada para kiai dan ulama yang ada di Pulau Jawa.
Dalam kisah perjalanannya Syekh Haji Mohammad Noer mengitari Pulau Jawa dengan melintasi hutan belantara yang tidak tampak matahari, serta binatang buas yang masih berkeliaran. Di tengah lebat dan gelapnya hutan di mana air banyak yang menetes di pepohonan karena udara lembab dan tidak terkena cahaya sang surya. 
Namun karena tawakkal, serta sabar dan takarrub pada Allah Rabbul 'Alamin, Ia dihindarkan dari setiap marabahaya.
     Ada satu hikayat tatkala pemuda itu melalui daerah Gunung Megamendung Jawa Barat, bertemulah dengan seorang perempuan yang cantik jelita yang membawa rantang berisi nasi dan lauk pauknya. Karena merasa lapar Ia menerima saja pemberian gadis itu dan dimakanlah dengan lahap sampai perutnya kenyang. Tapi anehnya makanan itu tidak pernah habis-habisnya. Selesai makan, ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada perempuan yang ditemuinya itu.
     Kedatangan Mohammad Noer untuk yang kedua kalinya di Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti disambut dengan senang hati oleh Kepala Desa Hasan Muhyi dan keluarganya. Kedatangannya memang sangat diharapkan karena adanya peristiwa yang lalu pada waktu kedatangan pemuda itu pertama kalinya. Setelah peristiwa dengan Tuan Sinder itu tersiarlah kabar bahwa Kasmirah telah menjadi calon suami pemuda Sunda yang berilmu tinggi tersebut. Sejak itu juga tidak ada pemuda yang mau mendekat apalagi meminangnya.
    Dengan adanya kejadian tersebut Pak Hasan Muhyi bermusyawarah dengan pemuda itu untuk mencari jalan keluar terkait isu yang membuat dirinya tidak merasa nyaman. Akhirnya pada tahun 1870 pemuda pendatang itu sepakat untuk dinikahkan dengan puteri angkat kepala desa tersebut.
Dalam perjalanan pernikahannya  Mohammad Noer dikaruniai 7 (tujuh) orang keturunan yaitu : Nurjasiyah, Mukminah, Maimunah, Mariyah, Mursiti, Ruqayyah dan seorang laki-laki bernama Mathori.
Semua putera-puterinya hidup dan menikah serta mendapat keturunan, kecuali Mathori yang masih belum dikaruniai anak. Puteri  pertama Nurjasiyah menikah dengan Kiai Nawawi (Bapak Qoniah), Mukminah menikah dengan Kiai Haji Shiddiq, Maimunah dinikahkan dengan Kiai Abdurrohim, Mariyah menikah dengan Kiai Shoheh Abu Solehan. Puteri ke lima Mursiti menikah dengan Kiai Abdul Hamid, Ruqayyah menikah dengan Abdul Karim dan Mathori menikah dengan Sarah.
    Dua tahun setelah pernikahan Syekh Haji Mohammad Noer dengan Kasmirah tepatnya pada tahun 1872, Mohammad Noer diberi tugas untuk membantu kepala desa mengemban tugas sebagai carik (sekretaris desa). Sekalipun mendapat tugas di pemerintahan desa, beliau masih tetap mengaji kitab kuning sebagaimana biasanya dan mengerjakan sholat fardhu berjama'ah di manapun berada. Bahkan kalau ada pertemuan atau rapat di desa maupun kecamatan kalau sudah masuk waktu sholat beliau mesti mohon izin untuk menunaikan sholat berjama'ah.
     Kemudian dengan adanya pemekaran  Desa Kemuningsari Lor Kecamatan Panti Kabupaten Jember, maka desa ini dikembangkan jadi 2 (dua) desa yaitu Desa Kemuningsari Lor dan Desa Pakis yang sebelumnya menjadi wilayah Desa Kemuningsari Lor. Beliau lalu dipilih untuk menjadi Kepala Desa Pakis tapi ditolaknya dengan halus. 
Beberapa tahun Pak Hasan Muhyi menikahkan puteri kandungnya Mustirah, sehingga dengan adanya menantu keduanya Syekh Haji Mohammad Noer berniat mengundurkan diri dari tugasnya sebagai carik. Tepatnya kemudian pada tahun 1878 beliau secara resmi mengundurkan diri sebagai carik dan tugas itu dilimpahkan pada adik iparnya (menantu kedua Pak Hasan Muhyi).
  Setelah Syekh Mohammad Noer mengundurkan diri dari jabatannya sebagai sekretaris desa, beliau mulai merintis pendirian pondok pesantren. Pertama kali yang dilakukan adalah membeli sebidang tanah yang cukup luas yaitu 13 hektar. Tanah tersebut masih berupa hutan yang dihuni oleh binatang buas dan liar. Selain itu masih menurut cerita, tanahnya terkenal wingit dan angker. Karena angkernya tempat tersebut, maka beliau membersihkannya dan mendirikan sebuah rumah sederhana yang mirip saung (gubug). Atapnya dibuat dari rumput ilalang (alang-alang) dan daun rotan, sedangkan tiangnya dari kayu dadap yang masih basah.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari beliau bekerja keras dengan bercocok tanam sayur-sayuran dan palawja yang hasilnya dijual sendiri ke pasar.
Apabila musim hujan tiba terpaksa beliau tidak dapat bepergian dan berjualan karena lokasi rumah yang ditempati berada di antara dua aliran sungai yang cukup besar. Kalau hujan lebat air sungai meluap dan jembatan yang ada di situ tidak bisa diseberangi.  
Untuk itu beliau mengatasinya dengan dengan memperkecil aliran sungai sebelah timur dengan cara mengatur aliran airnya di persimpangan sungai di Desa Pakis. Aliran sungai ke jurusan Desa Kemuningsari Lor diperkecil, sehingga aliran air lebih banyak ke sungai ke jurusan Desa Banjarsari. Sungai yang disebut terakhir kondisinya memang lebih lebar dan dalam.
     Kemudian berkat keuletannya, makin lama kawasan itu semakin teratur dan tertata dengan baik. Berbagai jenis tanaman berupa buah-buahan, kolam-kolam yang dipenuhi ikan warna-warni telah banyak menarik masyarakat untuk datang berkunjung ke daerah baru tersebut. Di tempat itu dipenuhi pula oleh anak-anak yang datang untuk bermain karena sangat asri dan menyenangkan. Sementara kehidupan ekonomi keluarga beliau menunjukkan kemajuan dan meningkat karena ditopang oleh kegiatan bercocok tanam.
    Pada tahun 1900 beliau mendirikan sebuah surau (langgar) yang digunakan untuk sholat berjamaah dengan masyarakat sekitar dan tempat anak-anak warga mengaji. 
Dengan ketekunan, ketelatenan dan kesabaran beliau yang tidak kenal menyerah, maka jumlah santri makin lama makin banyak sehingga langgar itu tidak cukup lagi untuk menampung anak-anak yang mengaji di sana. Untuk itu beliau kemudian memperbesar langgarnya manjadi sebuah mesjid. Beliau juga membangun jembatan untuk memperlancar hubungan transportasi dan lalu lintas jama'ah. Semakin lama semakin banyaklah warga masyarakat yang berdatangan dari luar Desa Kemuningsari Lor yakni berasal dari daerah Jember, Banyuwangi, Bondowoso bahkan dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera dan lain-lain. Maka dibangunlah pondok atau penginapan untuk kebutuhan para tamu yang menuntut ilmu atau santri yang mengaji. 
      Pada mulanya pondokan itu dibangun dengan menggunakan dinding bambu dengan alas jerambah dari bambu pula sekedar untuk tempat bermalam bagi para tamu jauh dan santri yang bermukim. Pondok pesantren yang baru berdiri itu diberi nama Nahdlatul Arifin yang memiliki arti dan makna Kebangkitan Orang-Orang yang Arif.
Dengan kerja keras dan semangat yang tidak mengenal lelah serta barokah yang besar karena pengabdian pada agama yang ikhlas, maka keadaan ekonomi beliau meningkat pesat. Beliau kemudian menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah selama 7 bulan dengan perjalanan menggunakan kapal laut. Bersambung.
                                       
Keterangan Foto  : 
1. Tampak depan  Pondok Pesantren Syekh Haji 
     Mohammad Noer, Kemuningsari Lor Panti,    
     Jember
    
2. Pengasuh Pondok Pesantren, Kiai 
    Arjuni Sanwani.